Wednesday, January 2, 2019

Salam Kenal Code

 
Aku masih begitu asing, ketika menginjakkan kaki di kota ini. Lebih tepatnya di pinggiran di sebuah perkampungan padat penduduk , sepanjang bantaran Kali Code. Kali Code bagaikan ular panjang dan besar membelah di tengah ramainya kota. Beda sekali dengan kali di dusunku , yang lebarnya tak lebih dari dua meter saja. 

Aku adalah “ cah ndeso” , dari sebuah dusun yang jauh dari hingar bingarnya kehidupan kota. Jarak antar rumah dengan tetanggapun masih sangat berjauhan, dan banyak pohon-pohon besar di antaranya. Kalau malam menjelang, dusunku bagaikan tak berpenghuni, sepi, gelap dan mencekam. Maklumlah jaringan listrik masuk desa belum sepenuhnya sampai di seluruh dusun. Bila magrib menjelang, jendela dan pintupun segera tertutup rapat. Kecuali saat bulan purnama, para warga dan anak-anak biasanya asyik bersendau gurau sambil melihat indahnya bulan di malam hari.
“Ini kamarmu, masukkan dan rapikan barang-barangmu”
Kalimat itu membuyarkan ingatan tentang dusunku.
“ Eh , iya Bu...”

Bergegas Aku memasukkan tas dan kardus bawaanku ke dalam kamar . Kutatap sekeliling kamar yang tak begitu luas. Lumayan ada tempat tidur, lemari baju dan meja kecil untuk belajar. Kuturunkan barang-barangku yang tak seberapa satu persatu. Ingatanku pun kembali membawaku ke kampung halaman, tempat aku dilahirkan dan hidup bersama keluargaku. Karena keinginanku yang begitu besarlah yang membawa diriku ke kota ini untuk melanjutkan pendidikan.

Aku sangat beruntung, meski dilahirkan di sebuah keluarga yang sederhana, bahkan bisa dibilang sangat sederhana, tetapi orang tuaku mempunyai pikiran yang maju tentang pendidikan. Bahkan Ibuku selalu menomorsatukan pendidikan untuk anak-anaknya. Hal ini tentu sangat berseberangan dengan orang-orang di dusunku. Anak-anak yang sekolah SMA sangat jarang. Terlebih bagi anak gadis sepertiku. Bisa sekolah sampai SMP saja itu sudah luar biasa. Biasanya selepas SMP para anak gadis akan merantau ke kota. Entah di sana mereka jadi apa. Yang kutahu ketika lebaran tiba , para perantau mudik ke kampung halaman. Penampilan mereka jadi berubah, terlihat begitu enak dan nyaman kehidupan mereka. Memakai perhiasan dan baju yang bagus-bagus, tak lupa gaya bahasa ala anak kota. Aku pernah merasa iri dan ingin sekali seperti mereka. Tetapi ibuku selalu bilang, selama masih mampu untuk sekolah, anak-anaknya harus sekolah yang tinggi, tidak terkecuali aku.

Kehidupan sebagian besar warga di dusunku adalah petani, demikian juga orang tuaku. Tetapi mereka hanyalah buruh tani. Mereka tak punya ladang sendiri. Aku empat bersaudara,adik-adikku semuanya lelaki, dan aku satu-satunya anak gadis dalam keluargaku. Semuanya sekolah, bisa terbayang betapa beratnya perjuangan orang tuaku untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Selain sebagai buruh tani, bapakku juga memelihara beberapa ekor kambing. Mungkin kambing-kambing inilah yang bisa meringankan beban orang tuaku untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Sepulang sekolah biasanya aku dan adik-adikku punya tugas “ ngarit “ atau mencari pakan kambing berupa rerumputan. Kegiatan ini biasa dilakukan oleh anak-anak sebayaku dan warga lainnya. Selain bercocok tanam , mereka juga mempunyai hewan ternak peliharaan. 

Ketika aku sedang mencari rumput, adik-adikku membawa kambing-kambing ke padang rumput. Mereka tidak merumput tetapi “ angon”atau menggembalakan kambing-kambingnya .Dibiarkannya kambing-kambing itu makan sepuasnya, sambil ditinggal bermain dan ngobrol dengan teman-temannya. Sungguh asyik dan menyenangkan. Berlari kejar-kejaran , anak-anak senang kambingpun kenyang. Hingga petang menjelang kambing-kambingpun di bawa pulang ke kandang.

Tapi semua itu harus ditinggalkan. Selepas SMA, aku ingin merantau saja ke kota seperti para gadis lainnya. Namun orang tuanya menentang keras keinginan itu. Mungkin karena aku dianggap berprestasi, sehingga sayang kalau sekolahku terhenti. Kebetulan sejak SD hingga SMA aku selalu mendapatkan rangking di kelas, sehingga ibu tidak mengijinkan aku untuk mengikuti jejak gadis-gadis di dusunku. Orang tuaku tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi, hanya lulus SD saja waktu itu. Padahal mungkin sebenarnya bapak dan Ibuku cukup pintar, namun karena keadaan yang tak memungkinkan, akhirnya tidak melanjutkan. Mereka tak ingin ini terjadi pada anak-anaknya.
“ Kalian harus sekolah yang tinggi, agar tidak jadi seperti orang tuamu ini Nak , kami yakin kalian bisa. Orang tua tak bisa memberi bekal harta dan tanah yang luas untuk kalian, tetapi kami akan memberi bekal ilmu, dan gunakanlah ilmumu untuk modal kehidupan kalian nanti” 

Biaya kuliah bagi keluargaku tidaklah murah, belum lagi untuk makan dan kos di kota nanti. Tetapi untunglah orangtuaku mempunyai saudara jauh di kota. Mereka menawarkan tumpangan tempat tinggal dan makan gratis, selama kuliahku di Jogja. Tentu saja disambut baik oleh keluarga . Sebenarnya aku sangat takut , karena belum pernah sebentarpun pergi dan lepas dari keluarganya. Tapi demi sekolah dan harapan orang tuaku , akhirnya aku menerima tawaran itu. Ibuku adalah orang pertama yang selalu meyakinkan untuk terus maju..

Orang tua dan adik-adikku melepas kepergianku siang itu. Berbekal baju seadanya dan beberapa buku aku ke kota mengikuti saudara ibukku, meninggalkan kampung halamanku. Baru sekali ini aku berpisah dengan keluargaku. Kupeluk erat Bapak , ibu dan adik-adikku.
“ Jaga diri baik-baik ya Nak, tetap semangat, kami yakin kamu bisa “
Bisik Ibu melepas kepergiannya. Kini mereka benar-benar telah jauh dariku. Aku berada di tempat asing yang sangat jauh berbeda dengan dusunku. Tak terasa butiran hangat jatuh di pipi tirusku. Segera kuhapus dengan ujung kerudung yang tak lagi baru . 
“Aku tak boleh cengeng, Bapak dan ibukku sudah berjuang untukku, aku tak boleh lemah. Ini baru awal perjalananku di sini. Aku harus bisa” Batinku menghibur diri.

Keluarga yang baik hati dan mau menampungnya ini memiliki tiga anak yang sudah besar-besar. Bahkan yang paling besar sudah berkeluarga, dan tinggal di rumah yang berbeda , meski masih satu RT. Yang nomor dua sudah lulus SMA tetapi tak melanjutkan sekolah. Dia memilih untuk ikut kursus merias. Sementara yang bungsu masih sekolah SMA , lumayan paling tidak usia tidak jauh berbeda denganku . Keluarga ini memang tak bisa dibilang kaya raya, tetapi lebih beruntunglah dari pada keluargaku. Lebih mapan meski hanya penjual bakso dan es. Ini terlihat dari rumahnya yang tentu lebih bagus dari rumah bata kami di dusun. Yang terpenting bagiku, mereka sangat baik hati. Mau menampungku selama kuliah. Aku pun diberi kamar sendiri, menempati kamar anak sulung mereka yang kini sudah berkeluarga. 


Diterima di salah satu perguruan tinggi negeri keguruan di kota ini membuat orang tuaku bangga dan semakin bulat untuk menguliahkanku. Aku tak boleh mengecewakan mereka. Aku harus tetap semangat, meski harus menumpang dan tinggal di sebuah kawasan padat penduduk, pinggiran Kali Code. Dari ‘ cah ndeso “ menjadi “ cah nggirli “ , anak pinggiran kali. Salam kenal ku sampaikan untuk Code yang terdiam. Temani aku mengisi lembaran hari-hariku ke depan, demi sebuah impian , menjadi guru idaman.

Cempaka .....

 
Selasa, 28 Nopember 2017. Kami masih seperti biasanya. Menganggap hujan yang tak kunjung reda adalah hal biasa di musim “ dedah “ hingga kamipun beraktivitas seperti biasanya. Hujan dari kemarin tak sedikitpun menyurutkan langkah . Berbekal mantol seadanya menuju tempat kerja, saling bertegur sapa dan sendau gurau seperti biasanya. Anak-anakpun demikian, ada yang diantar, ada yang berangkat naik sepeda dengan jas hujannya. Semua masih seperti biasanya.

Siang menjelang hujan tak kunjung reda. Kadang deras, kadang gerimis , tetapi terus menerus tak kunjung berhenti juga. Sedikit resah mulai mengusik jiwa. Tapi kami tetap seperti biasanya. Menuntaskan tugas dan kewajiban.

Ketika bel berbunyi , tanda pelajaranpun telah usai. Berbagai pesan disampaikan, agar anak-anak menunggu jemputan, bagi yang naik sepeda menunggu hujan agak reda. Buku dan sepatu diamankan. Tas plastik senjata utama, agar aman dari tetesan air hujan. 

Gerbang sekolahpun dibuka. Kami pun tersentak. Baru kami menyadarinya, ini hujan tak seperti biasanya. Berjuta rasa bercampur aduk di dalamnya. Bergegas menghubungi sanak saudara. Ketika tersambung, kamipun terduduk lemas. Air telah menggenang di mana-mana. Banjir melanda kota kesayangan. Tak tahu harus berbuat apa. Air matapun mulai jatuh bercucuran. Terbayang bagaimana kami bisa pulang. Anak-anak masih berlarian , menuju tempat yang aman. Berharap hujan segera reda, orang tua segera datang, bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga.

Bantul sore itu kian mencekam. Listrik pun sudah dipadamkan . Jalan-jalan tak lagi terlihat,yang ada hanyalah hamparan air yang kecoklatan, beriak bagaikan ombak berdeburan terkena terjangan kendaraan. Sorot lampu kendaraan yang diandalkan. Air mataku semakin bercucuran. 


Ketika Cempaka menyapa , Bantulpun berduka. Banyak sekolah yang terendam, bahkan rumahpun tergenang. Tak hanya itu , tanah yang sudah tergerus hujanpun longsor kemudian. Ya Allah...inikah teguran atau hukuman? Kami benar-benar takut , sungguh kami tak berdaya dengan semua ini. Ya Allah...lindungi dan ampuni kami. Beri kesempatan untuk melihat esok lagi dan bisa berbenah diri.

Marlupi

Masih Bersama Simulasi

Hari ini aku masih berkutat dengan simulasi UBK. Lumayan menyita waktu dan energi. Tiga sesi harus kulalui. Komputer mungkin sebenarnya sudah tak asing lagi bagi siswa –siswa jaman sekarang. Meskipun kami tinggal di pinggiran kota gudeg ini. Mengerjakan soal dengan menatap layar, tentu butuh adaptasi. Berbeda dengan Ujian Berbasis Kertas, UBK atau Ujian Berbasis Komputer lebih membutuhkan konsentrasi. Untuk itulah perlu diadakan simulasi, agar para siswa lebih “ friendly “ dengan tombol –tombol UBK atau tampilan pada layar komputer.

Menjadi proktor , harus selalu siap bersama teknisi. Memberi kenyamanan hati pada siswa-siswa kami, agar mereka tidak resah hati. Begitu banyak yang harus kami lalui untuk bisa mengikuti simulasi ini . Dari persiapan hingga sinkronisasi. Jadwal sinkron yang terkadang harus malam hari. Beruntung kami mempunyai tim yang satu hati. Kompak dan saling memotivasi, sehingga meski banyak tantangan yang kami lalui, tetaplah kami berbesar hati. 

Mulai dari menyiapkan komputer yang tak mencukupi, sehingga sekolah harus meminjam laptop Bapak/Ibu guru agar acara bisa berjalan tanpa ada anak yang tak kepagian komputer. Meski sudah dua ruang laboratorium komputer, ternyata masih ada kekurangan di sana sini. Laptoppun tidak semuanya bisa digunakan dalam simulasi. Listrik, internet bahkan cuacapun turut beraksi. Dan di hari pertamapun terjadi. Di saat siswa-siswa kami sedang mengerjakan simulasi, tiba-tiba listrik mati. Jaringan putus. Untunglah sang teknisi sangat sigap, dan masalahpun teratasi. 

Teringat dengan kejadian di tahun lalu. Pengalaman menjadi proktor dan teknisi yang pertama. Waktu itu simulasi hari kedua yang terbagi menjadi tiga sesi. Sesi satu terkendali dengan VHD, dan teratasi, lancar sampai di sesi dua. Begitu masuk sesi tiga, cuaca berubah, tidak bersahabat. Langit tiba-tiba mendung. Hujan deraspun turun , dan petirpun menyambar. Komputer klien mati, serverpun mati. Pengalaman yang sungguh sangat berharga bagi kami. Harus tetap bisa pegang kendali. Menenangkan siswa-siswa kami agar tidak panik, sambil berbenah diri, sampai simulasi bisa berjalan kembali. Semoga tahun ini semua bisa berjalan dengan lancar dan tetap majulah pendidikan di negeri ini. Semangat......!


Marlupi, SMP 2 Piyungan

Enggan


 
Enggan
Tanpa kita sadari “ enggan “ menyusup dan bersarang dalam tubuh kita. Mengalir dalam pembuluh darah, hingga seluruh tubuh dan pikiran berada di zona nyaman. Enggan untuk melakukan banyak hal, karena sudah merasa puas dengan apa yang selama ini dilakukan. Anti terhadap perubahan, karena menganggap perubahan hanya akan membawa keburukan. Anti untuk membuka diri karena merasa telah teruji dan malas untuk mengikuti perkembangan.

Waktu terus bergerak, bagai roda kehidupan yang terus berputar. Tak ada yang statis, semua dinamis, selalu berubah seiring waktu dan jaman.Hal-hal baru banyak bermunculan. Kalau kita enggan untuk beranjak, maka kita hanya akan menjadi penonton perubahan saja. Dunia pendidikan pun begitu, bersifat dinamis dan selalu bergerak seiring perkembangan jaman. Kitapun harus melepas “ enggan “ dalam diri kita. Agar mampu menjadi agen perubahan.

Enggan tidak boleh melekat kuat dalam diri kita. Karena enggan hanya akan membuat kita semakin terlena saja. Enggan membaca buku, maka kita akan ketinggalan banyak berita. Pada akhirnya kita bagaikan katak dalam tempurung. Enggan untuk belajar teknologi yang baru, maka kita akan ketinggalan banyak hal. Bagaikan energi potensial yang berada dalam diri kita, maka enggan harus diolah dan diubah menjadi energi lain yang bersifat positif. 

Membuka diri adalah salah satu cara untuk mengubah enggan . Membuka diri terhadap perubahan, dengan tanpa meninggalkan filter karakter dalam diri kita. Membuka diri terhadap teknologi, tetapi tidak menjadi budak teknologi. Membuka diri untuk terus belajar, agar kita tidak ketinggalan kereta. Mengapa kita harus selalu belajar? Karena dunia yang akan dihadapi anak cucu kita sangat berbeda dengan dunia kita. Bila kita tidak mempersiapkan mereka sesuai dengan jamannya, maka waktu kehidupan akan menggilas kita di perjalanan. 

Biarkan enggan pergi dari diri, agar kita tidak merasa asing di rumah sendiri. Membuka diri dan mata hati, bulatkan tekad menjadi pribadi yang lebih berarti.

Marlupi, S.Pd
SMP 2 Piyungan

Simulasi UBK di Piyungan

 
Simulasi UBK di Piyungan
Piyungan. Senin 20 Nopember 2017, seluruh SMP dan MTs se Indonesia mengikuti Simulasi I UBK . Demikian juga SMP 2 Piyungan. Seluruh siswa kelas 9 sejumlah 171 mengikuti simulasi ini. Para siswa dibagi menjadi 3 sesi dalam dua laboratorium Komputer. Laboratorium komputer yang digunakan adalah Labkom Bahasa dan Labkom ICTEQEP. 

Labkom ICTEQEP dipandu oleh proktor Marlupi, S.Pd. dengan teknisi Debrita Septembri, S.Kom. Sementara Labkom Bahasa dipandu oleh proktor Rina Purwandari, S.Pd. dengan teknisi AH. Purwanto. Simulasi ini diikuti secara antusias oleh siswa-siswa SMP 2 Piyungan. Tahun kemarin SMP 2 sudah melaksanakan UBK dan ini adalah tahun yang kedua. 

Tujuan dari Simulasi I UBK ini adalah mengenalkan pada para siswa tentang Ujian Berbasis Komputer, sehingga siswa menjadi familiar. Dengan demikian saat nanti benar-benar pelaksanaan UBK para siswa sudah terbiasa, dan tidak ada kendala.

Simulasi pada hari pertama ini bisa berjalan dengan lancar, meskipun banyak kendala. Terlebih bagi sekolah pinggiran seperti SMP 2 Piyungan. Kendala yang pertama adalah terbatasnya komputer, sehingga terpaksa menggunakan laptop dari bapak ibu guru. Penggunaan laptop ini membutuhkan waktu persiapan yang lebih dibanding persiapan menggunakan komputer laboratorium. Kendala yang kedua adalah gangguan jaringan internet. Gangguan ini sempat dialami pada sesi 2 , ketika listrik tiba-tiba padam. 

Simulasi ini memberikan pengalaman berharga baik pada para siswa maupun pada para proktor, teknisi dan pengawas. Rencananya simulasi ini akan berjalan dua hari, sehingga masih kurang satu hari yaitu besok Selasa 21 Nopember 2017. Hari pertama mengerjakan mapel Matematika dan Bahasa Indonesia, sedangkan pada hari kedua mengerjakan mapel Bahasa Inggris dan IPA.( Upik)

Marlupi, S.Pd.
SMP 2 Piyungan