Wednesday, January 2, 2019

Pembelajaran kooperatif dengan MWS


 
Pembelajaran abad 21 telah mengalami banyak pergeseran, diantaranya dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada peserta didik. Tidak dipungkiri pada pembelajaran konvensional, tahun-tahun sebelumnya lebih berpusat pada guru. Gurulah yang aktif dalam pembelajaran, sehingga peserta didik hanya menyimak dan mendengarkan saja. Kalau di dalam bahasa jawa istilahnya “ anteng sedheku “. Peserta didik harus duduk tenang , tangan dilipat di atas meja. Metode yang digunakan gurupun cenderung untuk metode ceramah. Mengajar IPA pun seolah-olah menjadi pelajaran sejarah IPA. Hal ini tentu banyak kelemahannya, karena kemampuan peserta didik untuk mendengar dan menyimak tentu berbeda-beda.

Model Pembelajaran Kooperatif dengan MWS ( Metode Window shopping ) dapat digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran ini lebih menekankan pada ketrampilan sosial peserta didik, dan diharapkan peserta didik menjadi lebih aktif dan terlibat langsung dalam proses melalui “shopping “ atau belanja antar kelompok. Di akhir pembelajaran diharapkan peserta didik mendapatkan belanjaan komplit , tentunya dengan konfirmasi dan penguatan dari guru selaku fasilitator.

Adapun langkah-langkah yang bisa dilakukan pada Model Pembelajaran Kooperatif dengan penerapan MWS ini adalah ;

1. Menyampaikan tujuan dan motivasi
Motivasi dan stimulus bisa berupa gambar, video, atau kasus untuk memancing peserta didik ke arah tujuan pembelajaran.
2. Penyampaian Informasi
Gambaran kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. Tema utama dibagi menjadi sub-sub tema. Tiap kelompok mengerjakan sub-sub tema yang berbeda . Setelah selesai tiap kelompok harus berbelanja ke kelompok lain untuk mendapatkan satu tema yang utuh, dengan peran penjual dan pembeli
3. Pengorganisasian Peserta Didik
Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan sub tema yang akan dikerjakan. Satu kelompok bisa terdiri dari 3-5 anak.
4. Pembimbingan dan Evaluasi
Dengan didampingi guru tiap kelompok mempelajari dan menyiapkan sub tema materi yang telah diberikan. Setelah selesai kemudian dilakukan “ shopping “
Pada akhir kegiatan , dilakukan presentasi dan diskusi kelas dengan penguatan dan refleksi dari guru.
5. Penghargaan

Guru melakukan refleksi dan penghargaan atas kerja sama kelompok dalam menyelesaikan pembelajaran.

Suket Teki

 
“ Tak tandur pari, jebul thukule malah suket teki....”
Siapa yang tak kenal dengan syair lagu itu? Hampir sebagian besar penduduk Jawa pernah mendengarnya. Lagu yang cukup nge” hit ‘ dipopulerkan oleh Didi Kempot. Saking hitnya sampai dibawakan dalam beberapa vers idiantaranya keroncong, pop dangdut, dangdut koplo ataupun yang lain.

Aku mengenal lagu ini , waktu naik bis . Kebetulan suami tidak bisa mengantar ke Wonosari, sehingga kupilih naik bis sambil mengenang kembali masa-masa kuliah dulu. Sewaktu kuliah aku harus wira-wiri Jogja Wonosari. Jalan yang kulewati masih seperti dulu, berkelok-kelok, banyak tikungan. Untunglah aku sudah tidak “ mabukan “. Dulu tiap kali naik bis untuk perjalanan yang agak lama, aku pasti mabuk kendaraan. Maklumlah, orang udik jarang bepergian. Alhamdulillah, seiring berjalannya usia mulai hilang.

Bis penuh sesak, tapi lumayanlah masih kebagian tempat duduk. Musik dangdutpun mulai mengalun, seolah menjadi pengiring tidur para penumpang yang kecapekan. Dan akupun mulai menikmati lagu itu ( hiks...baper ), meski di awal begitu asing di telingaku, lama-lama asik juga. Rencak gendangnya, bikin penumpang sebelah manggut-manggut.

Syair lagunya begitu menggelitik pikiranku. Sederhana tapi cukup mengena. Ibarat orang bercocok tanam, hasil panen tak seperti yang diharapkan. Orang menanam padi, tapi yang tumbuh ternyata hanyalah rumput teki. Tentu sangat menyakitkan ( ngenes ). Betapa tidak, orang melakukan kebaikan tetapi dibalas dengan pengkhianatan atau keburukan. Dan ini sangat sering terjadi dalam kehidupan nyata. Banyak kebaikan yang terkadang dibalas dengan keburukan, meski tidak semua demikian.
Kita tidak boleh berhenti menanam kebaikan. Karena kebaikan tetap akan berbuah manis pada akhirnya. Dan janganlah” nandur suket teki, karena tak mungkin “ thukul pari “. Tetaplah semangat menanam padi, meski ada beberapa “ suket teki “ yang ikut tumbuh. Siapa menanam , dia akan memanennya nanti. Terlebih harga beras kini semakin tinggi, takutnya kalo kita patah semangat, nanti tak akan terbeli. Ayooo...semangat “nandur pari!!!!

Ibuku adalah Guruku


Rambutnya sudah tak hitam lagi, warna putih menjadi sangat dominan. Kulitnyapun sudah berkeriput dan mulai kisut, namun kecantikannya tetap tercermin dari senyumnya. Tatapan matanyapun tetap teduh dan menyejukkan. Belaian tangannyapun tak berubah, masih sama seperti masa kecilku dulu. Dialah wanita yang selalu ada untukku. Bahkan sampai aku sudah berkeluarga dan punya anakpun , beliau tetap seperti dulu. Meski kini jarak memisahkan , namun dering telepon setiap hari seolah sudah terjadwal rutin. Terkadang karena kesibukan dan berbagai urusan aku lupa untuk menelepon duluan, tetapi Ibuku tak pernah lupa. Alangkah naifnya aku....terkadang aku menjadi malu sendiri, ketika Ibukulah yang lebih dulu meneleponku. Suara lembutnya khas, begitu juga tawa dan candanya. Bahkan meski lewat telepon saja, Ibukku sangat hafal dan mengerti betul kondisiku, sedang sedih, suka ataupun gembira. Seolah semua tak bisa kusembunyikan dari beliau.

Kutuliskan puisi ini untuk Ibuku, wanita yang menjadi motivator dan sumber inspirasi dalam hidupku.

Ibuku adalah guruku
Wanita yang tlah mengandungku
Mengajariku membuka mataku
Menapakkan kakiku

Tak kenal lelah merawatku
Membesarkanku

Mengajariku mengenal sekeliling
Agar tak sesat jalanku

Ibuku adalah guruku
Wanita yang tak pernah rela dengan air mataku
Selalu diusapnya tangis kekalahanku

Wanita yang selalu bahagia
Atas keberhasilan dan kemenanganku
Wanita yang selalu membelai rambutku
Kala gundah menyapa hidupku

Ibuku adalah guruku

Wanita yang tak jemu mendorongku
Untuk terus menuntut ilmu
Wanita yang rela tak memakai baju baru
Agar bisa membeli buku
Wanita yang rela menjadi buruh
Agar bisa melanjutkan kuliahku

Ibuku adalah guruku
Wanita yang dengan tulus selalu mendoakanku
Dalam setiap hentakan napasnya
Untuk keberhasilan dan kebahagiaanku

Ibuku adalah guruku

Karenamulah hari ini aku dipangil “ Bu Guru “
Berkatmulah aku bisa mengerti duniaku
Terimakasih Ibuku
Berjuta kata pun tak kan mungkin mampu
Menggambarkan rasa terimakasihku

Bahkan berlian segunungpun
Tak kan pernah sebanding dengan pengorbananmu
Terimakasih Ibuku
Engkaulah guruku

Bagaikan Sebilah Pisau

Pemandangan yang sama dimanapun kita berada. Di kantor, di rumah, di tempat makan, di tempat pertemuan. Duduk saling berdekatan, tapi pikiran entah ke mana. Semua sibuk dengan benda kecil yang satu ini. Bukti canggihnya teknologi , yang membawa kita ke dunia tanpa batas waktu dan tempat. Akankah membawa manfaat bagi semua? Tentu bergantung pada si pengguna. Dan di antara pengguna itu ada kita didalamnya. Sudahkah kita bijak menyikapinya?

Bagaikan sebilah pisau
Ia sangat tajam
Bisa memotong dan menyayat
Tapi lihatlah..
Kala kita tak hati-hati
Ia bisa saja melukai

Luka dalam tanpa belas kasihan
Hingga berdarah-darah
Ialah teknologi
Karenanya kita menjadi tahu
Tentang dunia tanpa batas waktu
Dengannya kita bisa bertemu teman

Yang dulu pernah terpisahkan
Karenanya kita bisa tahu berita
Kejadian di manapun secepat kilat
Tanpa ada kata terlambat
Ialah teknologi

Yang membuat kita menjadi makhluk asing
Di rumah, di sekolah, di kantor
Bahkan tetangga sendiripun kita tak kenal
Apakah kita akan terus begini? 

Jangan biarkan teknologi menusuk kita
Gunakan ia dengan bijaksana
Agar berguna untuk kehidupan kita.

Pisau adalah salah satu peralatan rumah tangga yang sangat kita butuhkan. Tetapi kita harus berhati-hati dalam menngunakannya. Jangan biarkan ia melukai. Melukai hati dan juga perasaan. Terlebih orang-orang terkasih yang ada di sekitar kita. Marilah menggunakan teknologi secara bijak dan pintar. Menggunakan handphone dengan smart . Memberi contoh pada buah hati kita, agar mereka juga tidak tenggelam dalam dunia maya dan asik dengan gadget mereka. Satu teladan tentu akan lebih baik daripada seribu nasihat yang kita berikan.

Bijak ketika berada di rumah, di tempat kerja, ataupun ketika bersama orang tua. Jangan biarkan kebersamaan, canda dan tawa menjadi ternoda karena kita asik dengan teman dunia maya, yang entah berada di mana. Sebelum terlambat , marilah instorpeksi pada diri, agar tak ada penyesalan nanti. Waktu terus berjalan, dan ia takkan pernah kembali.

Gadis Penjual Bakso

 
Gadis Penjual Bakso
Hari-hari pertamaku terasa begitu panjang dan melelahkan. Jadwal kuliah belum dimulai, kugunakan waktu untuk lebih mengenal tuan rumah dan tempat tinggal baruku. Aku memanggilnya Pak Piyo dan Bu Karti. Kampung ini begitu padat. Rumah-rumah berhimpitan. Akupun berkenalan dengan tetangga-tetangga terdekat. Mereka terlihat tak seramah tetangga-tetanggaku di dusun. Mungkin inilah bedanya orang kota dan dusun , pikirku waktu itu. 

Code memang agak lebar , lebarnya berkisar 10 meteran. Airnya pun tak begitu dalam. Di pinggirnya dibangun sumur umum, dan kamar mandi umum. Ternyata memang sebagian besar warga pinggiran ini banyak menggunakan fasilitas umum untuk keperluan MCK. Sedang untuk urusan dapur mereka menggunakan air PAM. Begitu juga dengan keluarga yang kutumpangi. Untuk keperluan masak dan mencuci piring kami gunakan air PAM, tapi untuk keperluan mencuci baju, harus di sumur umum. Awal-awal aku sangat kikuk, tapi lama kelamaan aku terbiasa juga. 

Sehari-hari Pak Piyo dan Bu Karti berjualan bakso dan es. Pagi hari mereka mempersiapkan dagangan. Dari cara membuat bakso, sampai membuat es campur yang enak dilakukan dengan terampil. Mereka begitu sabar dan mau mengajariku untuk membuat makanan itu. Ini benar-benar pengalaman baru bagiku.

Setelah semua dagangan siap, aku membantu mereka membawa ke warung tempat berjualan, tak jauh dari rumah yang kami tempati. Di situlah pelajaran baru kumulai lagi. Bagaimana menata makanan sampai menyajikan ke pembeli. Dari wajah yang harus selalu ramah sampai basa-basi. Lucu sekali rasanya. Maklumlah aku sebenarnya anak yang pemalu, bahkan dibilang jarang bercakap, apalagi berbasa-basi.
“ Kalau wajah kusut, muka cemberut, yang mau beli jadi malas”

Begitu Bu Karti sering mengingatkan. Sederhana memang, tapi begitulah adanya. Trik-trik jualan yang mereka dapatkan dari keseharian. Keramahan dan kesupelan dalam melayani pembeli menjadi syarat mutlak dalam perdagangan. 

Kuperhatikan Bu Karti, begitu luwes dan ramahnya melayani pembeli. Senyum renyah tak pernah henti, sambil tangannya meramu bakso dan minuman . Tak lupa dikenalkannya aku pada para pembeli. Hehe...aku jadi malu sendiri.

Hari-hari kuliahkupun tiba. Kampus yang kuinginkan kini di depan mata. Banyak teman dari berbagai daerah, tapi tak satupun yang berasal dari daerah yang sama. Mereka kelihatan seperti anak kota. Penampilan dan gaya mereka yang sangat berbeda denganku . Kulihat diriku, ah...aku jadi malu. Bajuku hanya beberapa, apalagi tas. Tas ransel cokelat teman setiaku. Tak mengapalah yang penting masih muat buku, hiburku.

“ Nanti kau akan bertemu dengan banyak teman, mungkin tidak sama sepertimu, yang pasti mereka jauh beruntung, berasal dari keluarga kaya, tapi kamu tak boleh minder. Kekayaan bukanlah ukuran dalam menuntut ilmu. Ingat, yang kaya orang tuanya, bukan mereka. Orang tuamu memang miskin, tapi kau sama seperti mereka , Nak “

Begitu pesan orang tuaku waktu itu. Kalau aku ingin maju, aku tidak boleh minder dengan keadaan orang tuaku. Toh mereka sama denganku, dan aku juga membayar seperti mereka. Pikirku menghibur perasaanku.

Mula-mula aku memang tak percaya diri, tapi lama- kelamaan tekad dan keinginanku untuk menjadi guru, mengalahkan rasa minderku. Ini belum seberapa. Lama kelamaan teman-temanku akhirnya tahu, kalau aku sering berjualan bakso .Dan benar saja, akhirnya terkuak juga identitasku. Berbagai reaksi kuterima. Ada yang menjauh, ada yang mendekat. Aku tak peduli. Toh aku tidak menyakiti mereka. Jadi untuk apa kupikirkan reaksi teman-temanku. Biarlah mereka belajar untuk mengerti sendiri, memang nasib tidak semuanya sama. Biarlah mereka mengerti , kalau si penjual bakso sepertikupun berhak untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Maka kuterima saja ketika aku mendapat julukan “ Gadis Penjual Bakso “. Tak mengapa. Aku justru bangga dengan hal itu. Setidaknya aku tidak menjadi benalu bagi keluarga baruku. Untung sudah kubuang jauh-jauh topeng maluku 

Warung bakso Pak Piyo biasanya akan ramai pada akhir pekan. Sabtu dan Minggu menjadi hari penuh harapan, dagangan habis terjual, uangpun didapatkan. Akupun mendapat bagian. Sebenarnya tak kuharapkan, toh aku sudah mendapat makan dan tumpangan. Tetapi mereka selalu memaksakan. Rejeki tak boleh ditolak. Lumayan, hasil tambahan Sabtu Minggu bisa kugunakan untuk tambah-tambah uang saku. Bahkan lebih, bisa kumasukkan ke celengan jagoku. Tapi bila pas jualan sepipun , aku tak begitu berharap. Aku mulai cukup mengerti dan paham bagaimana berjualan. Kadang laris manis, sampai habis , kadang masih banyak , sudah biasa. 

Hal ini membuatku tak seperti mahasiswa lainnya, yang menggunakan Sabtu dan Minggu untuk pulang dan berakhir pekan, mengambil jatah uang saku dan uang kontrakan. Sabtu Minggu kugunakan untuk membantu keluarga baruku. Harus kupendam rasa rindu, pada bapak dan ibuku, juga adik-adikku, begitu pula kampung halamanku. Namun apalah dayaku, ikut berjualan bakso, adalah caraku membalas kebaikan Pak Piyo dan Bu Karti kepadaku. Apalagi kalau membantu, aku juga mendapat tambahan uang saku, toh juga meringankan beban orang tuaku.

Aku sangat beruntung, jadwal kuliahku di hari Sabtu, hanya satu mata kuliah, hingga bisa kugunakan untuk segera pulang dan ikut berjualan. Aku punya buku kecil yang selalu kubawa ke mana-mana. Kebiasaan ini aku punya sejak SMA. Buku kecil berisi rangkuman pelajaran, yang bisa kubaca di mana-mana. Mungkin itulah salah satu kunciku hingga dulu aku bisa terus masuk 10 besar di sekolahku, meski hanyalah anak dusun. Akhirnya kubawa kebiasaanitu hingga kuliahku. Buku kecilku selalu ada dan kubawa ke manapun. Termasuk pas jualan. Ketika menunggu dan mengisi waktu senggangku, kubaca buku kecilku. Lumayanlah setidaknya mengusir waktu agar cepat berlalu.
Bila pagi menjelang, Pak Piyo dan Bu Karti pergi ke pasar untuk berbelanja, akupun bergegas membereskan rumah, dan menyiapkan peralatan. Mereka biasanya berangkat setelah sholat subuh. Akupun demikian, mencuci piring, baju harus kukerjakan sebelum mereka pulang. Mula-mula mereka melarangku untuk melakukan semua, tapi bagiku itu bukanlah hal yang berat. Aku sengaja melakukan semua agar aku tak merasa menjadi beban dalam keluarga. Akhirnya mereka pun mengizinkan aku mengerjakan semuanya. Kunikmati perjalanan hidupku yang seperti ini. Toh suatu saat nanti aku juga akan berkeluarga. Kuambil saja hikmahnya, bagiku mengerjakan ini semua bagai sebuah penggemblengan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga di suat saat nanti. Aku latihan membagi waktu dan diri. Menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat kuliah. Ketika Pak Piyo dan Bu Karti pulang, aku sudah siap untuk berangkat kuliah. Tak lupa minum teh dan sarapanpun sudah kuhidangkan. Dengan izin mereka aku berangkat, dan nanti pulang segera membantu jualan mereka. Kucium tangan mereka seperti aku mencium tangan orang tuaku. Bagiku mereka adalah bapak dan ibu kedua setelah orang tuaku. Restu mereka bagaikan restu orang tuaku. Begitulah keseharianku si gadis penjual bakso yang tak malu untuk menuntut ilmu.