Monday, January 7, 2019

Waspadai Anemia di Kalangan Pelajar


11:46 @Kolom

Mentari pagi ini bersinar cerah. Senin pagi yang begitu indah. Suasana sekolah sudah begitu ramai dari jam 06.15 tadi. Para orang tua mengantar buah hati meraka yang sudah beranjak remaja, ada juga yang berjalan kaki bersama-sama karena memang rumahnya dekat dengan sekolah. Tidak sedikit juga yang bersepeda.

Tepat pukul 07.00 bel pun berbunyi. Para siswa berbaris di halaman sekolah untuk melaksanakan upacara hari Senin. Ada yang cekatan segera berbaris di barisan kelasnya masing-masing, ada yang masih saja bercanda dengan teman-temannya, sehingga para guru pun harus ngopyak-opyak .

Setelah persiapan selesai upacara pun dimulai. Petugas kali ini dari kelas 8D, dengan pembina upacara Bapak Kepala Sekolah. Rangkaian acara demi acara pun dijalankan dengan penuh khidmat. Tiba-tiba ada peserta upacara yang hampir pingsan, tidak hanya satu tapi ada beberapa yang kemudian terpaksa undur diri dipapah petugas kesehatan, untuk istirahat di UKS. Untunglah petugas kesehatan dari para siswa dan guru selalu berada di belakang pasukan sehingga bila ada yang kurang enak bisa segera diaatsi. Mengapa mereka begitu lemah ya? Padahal upacara berlangsung tidak lama, tidak sampai satu jam.

Berdasarkan pengamatan dan interview pada anak-anak yang sering mengalami kejadian ini , dapat ditemukan beberapa faktor penyebab tidak kuat / hampir pingsan bahkan pingsan ketika mengikuti upacara.

1. Tidak sarapan

Masih banyak yang tidak menyadari pentingnya sarapan, sehingga pada jam-jam awal pembelajaran,mereka sudah kelihatan lelah dan tak bersemangat. Terlebih hari Senin mereka harus upacara. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan terus menerus, terlebih mereka seharian di sekolah. ( full day ).

2. Kurang tidur

Beberapa siswa mengaku kurang tidur, akibatnya masuk angin. Libur yang dua hari digunakan untuk bermain sehingga kadang lupa waktu. Ada juga yang diajak bepergian keluarganya sampai rumah sudah malam sehingga kurang tidur. Daya tahan tubuh terlebih remaja sangat dipengaruhi oleh asupan makan dan waktu istirahat, akibat lainnya mereka menjadi rentan penyakit.

3. Tanda-tanda gejala anemia

Tidak kalah pentingnya adanya adalah gejala gangguan anemia yang diderita oleh para pelajar. Anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi yang digunakan untuk pembentukan sel darah merah. Zat besi diperoleh dari asupan makanan berupa daging dan sayur-sayuran. Sementara remaja zaman sekarang hampir bisa dibilang tidak suka makan sayur. Hal inilah yang menjadi pemicu terjadinya gejala anemia di kalangan remaja. Tanda-tandanya bisa terlihat dari siswa yang tampak pucat, letih dan lesu. Semangat belajar pun menurun, bila dibiarkan maka prestasinya juga akan menurun. Untuk mengatasi hal ini maka sebaiknya dalam pembelajaran diselipkan pesan sayur dan buah. Terlebih sekarang hampir seluruh sekolah sudah menerapkan full day school, sehingga asupan makanan menjadi sangat penting.

Mari waspadai gejala anemia di kalangan pelajar, agar generasi kita menjadi generasi yang tangguh .

#Sekolahku#07012019

Belajar dari Sapu Lidi


00:42 @Kolom

Benar adanya kalau hari Ahad itu hari keluarga ( family time ), waktunya untuk berkumpul dan beraktivitas bersama keluarga setelah 5 hari atau 6 hari sebelumnya bekerja. Seperti halnya Ahad ini, selain membereskan urusan rumah, ada beberapa acara keluarga yang harus dihadiri. Salah satunya adalah pertemuan Trah Keluarga Besar Mulyo Winoto.

Trah adalah sekelompok individu yang saling memiliki hubungan kekerabatan (silsilah) satu-sama lain. Terdapat suatu buku/catatan silsilah yang biasanya menjadi rujukan untuk menunjukkan hubungan kekerabatan itu. Hubungan kekerabatan ini kadang-kadang tidak hanya bersifat biologis tetapi juga sosial, dalam arti ada anggota yang diangkat (karena adanya perkawinan kedua atau adopsi, umpamanya) walaupun tidak terkait secara biologi. ( wikipedia )

Dalam masyarakat timur yang mengutamakan kebersamaan, seperti yang dipraktikkan oleh sebagian suku bangsa di Indonesia, anggota trah seringkali mengorganisasikan diri untuk mempererat hubungan personal di antara mereka. Dalam masyarakat Jawa, sering kali alasan yang dipakai adalah agar mereka tidak saling melupakan satu sama lain (kepatèn obor).

Selain alasan biar tidak kepaten obor, trah juga sering digunakan sebagai wahana mengumpulkann kembali balung pisah. Mereka yang hubungannya renggang bisa akrab dan saling mengenal kembali.Mungkin inilah salah satu kelebihan teknologi yang harus kita akui. Lewat aplikasi media sosial terutama whatshap sekarang sangat mudah untuk membentuk grup trah. Seorang bisa memiliki beberapa grup trah, dari keluarga besar ibu, bapak, ibu mertua, ayah mertua, sampai tingkat yang lebih atas atau bawahnya. Punya berapa grup trah Anda?

Sesuai kesepakatan biasanya grup trah mengadakan pertemuan rutin. Ada yang 3 bulan sekali, ada yang 6 bulan sekali sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Kebetulan salah satu trah kami, mengambil 6 bulan sekali, di awal tahun dan di waktu lebaran Idul Fitri. Sesepuh kami, menyampaikan adanya falsafah sapu lidi yang digunakan dalam kebersamaan keluarga besar ini. Bagaimana ceritanya ?

Kita semua tentu mengenal sapu lidi, bahkan hampir seluruh rumah tangga memiliki sapu lidi. Keluarga besar diibaratkan sapu lidi yang terdiri dari banyak batang lidi. Satu batang lidi apakah bisa digunakan? Tentu sangat terbatas, bahkan cenderung sulit digunakan. Bagaimana kalau batang-batang itu kita ikat jadi satu? Akan terbentuk sapu lidi yang banyak manfaat dan kuat, di antaranya adalah bisa digunakan untuk membersihkan sampah. Ini mengandung maksud bahwa dengan bersama-sama masalah seberat apapun akan bisa diselesaikan dengan baik. Trah menjadi media yang bisa mempersatukan satu dengan yang lain. Saling mengenal saudara sedarah, ataupun saudara yang sebenarnya tidak ada ikatan. Setelah mengenal maka ada upaya saling memahami, yang kemudian saling menolong, bersatu menghadapi kendala dan hambatan. Dengan bersatu masalah seberat apapun akan bisa diselesaikan.

Setelah dipakai, lama kelamaan maka sapu lidi akan semakin pendek. Meskipun demikian sapu ini justru semakin kuat dan kokoh. Demikian juga dengan kita, dengan bertambahnya usia berarti semakin banyak makan asam garam kehidupan, sehingga semakin matang dan kuat dalam menghadapi kehidupan ini.

Alhamdulillah ternyata trah banyak manfaatnya, semoga pertemuan baik lewat dumay maupun dunia nyata bisa menjadikan kita seperti sapu lidi yang membawa banyak manfaat dan semakin kokoh seiring dengan perjalanan waktu. Terlebih kita ketahui bahwa menjalin silaturahmi itu banyak sekali manfaatnya, sebagaimana pernah saya tulis dalam http://marlupi.gurusiana.id/article/indahnya-silaturahmi-2272530

#edisibelajar#hariesoklebihbaik#

Kejutan Umroh di Acara Milad SD Muhammadiyah Pakel


06 Jan @Kolom

Pagi ini setelah nginem ( pekerjaan emak-emak dari urusanan dapur, sumur, dan yang lainnya) , aku bersiap mengikuti acara Milad SD Muhammadiyah Pakel Program Plus ( SDMP3 ) tempat putri kecilku menimba ilmu. Tepatnya milad yang ke-52. Sudah tua ya, lebih tua dari usia saya..hehehe. Sampai di tempat, acara sudah dimulai. Perjalanan di Ahad pagi memang agak ramai, jalanan agak padat, hingga aku pun naik motornya pelan-pelan saja, yang penting sampai dengan selamat, toh tidak fingerprint.

Rangkaian acara dimulai dengan karnaval siswa-siswi yang menggunakan pakaian adat Nusantara, untuk memperkenalkan dan melestarikan aneka kekayaan budaya yang ada di negara kita. Sementara di lapangan Sidokabul ( sebelah selatan gedung sekolah ) diadakan senam sehat yang diikuti oleh wali murid dari kelas I sampai kelas VI dan masyarakat sekitar. Lapangan pun tampak begitu meriah, banyak aneka makanan dan minuman siap saji, ada paket sembako murah ( baksos ) , aneka jilbab, tupperware dan banyak lagi. Tenda yang megah pun sudah didirikan.

Setelah karnaval dan senam selesai acara dilanjutkan dengan pentas seni. Diawali dengan sambutan dari pejabat PDM Kota Yogyakarta, dan pementasan kegiatan ekskul dari anak-anak yang luar biasa. Tingkah laku mereka yang masih kekanak-kanakkan dan kepolosan mereka mengundang decak kagum dan gembira para orang tua. Ternyata anakku pun dipanggil ke panggung juga untuk membawakan musikalisasi puisi. Gerilya karya WS Rendra pun dibawakannya bersama Ananda Aulia.Hiks....jadi baper..Bangganya menyebut dia anakku..( sholihah ya Ndhuuuk...).

Kejutan yang membuatku merasa sangat terharu, hingga tak mampu kutahan air mata, adalah ketika SD MP3 memberikan hadiah Umroh kepada tokoh yang telah membesarkan sekolah hingga menjadi besar. Beliau adalah Bapak Wajid Heryono dan Bunda Muslimah. Dua tokoh yang kukenal sangat sederhana, berjuang dengan ketulusan ,membesarkan sekolah ini menjadi layak diperhitungkan di wilayah Umbulharjo. Ya Allah..ternyata janji-Mu sungguh nyata. Semua pasti ingin ke tanah suci, memenuhi panggilan-Mu, dan Kau berikan kejutan itu pada mereka yang berhak. Alhamdulillah ...barakallah Pak Wajid dan Bunda Mus...Bekerja dengan hati , berniatkan ibadah, mendidik aset bangsa untuk menjadi sholih dan sholihah. Mengantar anak negeri meraih masa depan yang cerah, inshaallah rejeki dan berkah-Nya selalu melimpah.

Selamat dan sukses gebyar milad SD Muhammadiyah Pakel Program Plus yang ke-52, sukses dan maju terus..Barakallah

#edisimiladsdmp3#akupuningin#

Mantul Mas Eko


06 Jan @Kolom

Wooow...ternyata pagi ini rumah besar gurusiana sudah heboh. Sebenarnya tadi sempat ngintip sebentar, berhubung ada tugas lain yang harus saya selesaikan ( nginem dulu....) baru sekarang bisa mengunggah komentar. Siapa yang tak kenal dengan pria yang sudah tak lagi muda , bahkan bisa dibilang baru akan memasuki usia senja ( masih di atas kepala, berarti siang) ini. Dialah Mas Eko Prasetyo, yang sejak semalam bikin baper para fansnya .Sebenarnya hampir seluruh gurusianer sudah mengenal style tulisan Mas Eko, namun kali ini benar-benar parah dan mendapat rating tertinggi pula. Banyak yang jengkel, senyum-senyum sendiri, merasa kena tipu, malah sampai ada yang ngguling -ngguling (saya sih nggak...). Begitulah Mas Eko....hadeeeh ( ini lho yang ngangeni ) tapi kali ini ada yang bilang " terlalu". Masa sih?

Menurut saya ada beberapa hal yang bisa kita ambil dari artikel Beliau. Apa saja?

1. Pemilihan dan penulisan judul
Mari kita perhatikan judulnya, sangat menarik, mengundang rasa penasaran, up to date. Judul seperti itulah yang mempunyai kekuatan besar untuk menarik minat pembaca. Penulisannya pun demikian, ditulis dengan huruf kapital semua. Penulisan judul bisa dengan huruf kapital semua, atau kecil semua agar lebih aman, ketika kita kesulitan tata tulis penulisan judul. Sering kita kebingungan dalam penulisan judul, karena ada beberapa kata, misalnya kata sambung tidak perlu huruf kapital di awal kata.

2. Arti sebuah nama besar
Nama besar penulis sangat mempengaruhi minat pembaca. Kita masih sering membaca tulisan ,bukan apa yang ditulis , tetapi siapa yang menulis. Nama besar Mas Eko Prasetyo tentu tidak didapat secara spontan, melalui perjalanan panjang, bahkan konon sempat digodhog di kawah candradimuka. Siapa yang mengenal Mas Eko 50 tahun yang lalu? Saya yakin tidak ada yang kenal, belum lahir koq..hehehee. Proses inilah yang patut kita hargai. Kalau baru sekali dua kali menulis koq langsung besar itu ajaib..luar biasa.

3. Inspiratif
Mana inspirasinya? Ungaran? Tepat sekali, Mas Eko hanya menuliskan tempat dan tanggal, bukankah itu inspiratif, ide yang bagus? Ini umpan tulisan. Banyak yang bisa dituliskan.Misal, ada apa dengan Ungaran? Kenangan di Ungaran , Semalam di Ungaran, dan masih banyak lagi. Kita tinggal menggantinya dengan kota-kota sesuai selera kita bukan? Makasih idenya Mas....

Mantuuul ( Mantap Betuuul )Mas Eko...
#edisibelajarmenulis#

Rindu Bu Guru, Raihana Rasyid


05 Jan @Kolom

Belum lama kutuliskan kerinduanku pada seorang sahabat gurusianer yang berasal dari Riau, Bunda Nurmalia Siregar, guru Bahasa Inggris SMA N 2 Tambang . Kini rindu yang sama kurasakan pada penulis handal sekelas Pak Edi Prasetyo, siapa lagi kalau bukan wanita sholihah dari Medan, Bunda Raihana Rasyid. Sudah berhari-hari ketika bertandang ke rumah besar gurusiana, rumahnya masih tertutup rapat, bahkan di tahun 2019 yang baru beberapa hari ini pintu itu masih saja tertutup. Terakhir kali sempat kulihat pintu terbuka pada tanggal 30 Desember 2018, itu pun hanya sebentar. Hati menjadi bertanya-tanya, ke mana gerangan beliau? Ada apa? Dan pertanyaan-pertanyaan lain bergejolak di dada, tanpa tahu ke mana mencari jawaban.

Wanita sholihah yang lahir di Medan pada tanggal 07 September 1967 dengan nama Raihana Rasyid( panjangnya saya tidak tahu ) ini telah banyak berkarya. Raihana sendiri berarti tumbuhan yang harum, dan benar adanya, penulis populer wanita ini begitu harum dengan tulisan-tulisan yang selalu dirindukan oleh pembacanya. Keharumannya pun mewangi menebar di lingkungan tempat beliau berada, termsuk di komnuitas gurusiana. Rasyid diambil dari nama ayahnya Harun ArRasyid. Meski aku belum pernah bersua sebentar pun namun entahlah hati ini terasa begitu dekat. Jogja dan Medan memang jauh , namun rasa sungguh melewati batas ruang dan waktu.

Tulisan-tulisan Bunda Raihana sudah tak terhitung lagi, begitu banyak dan inspiratif,bagai magnet yang kuat sehingga pembaca pun ingin terus dan terus mendekat. Aku pun mengenal beliau lewat berbalas komentar, sungguh Beliau adalah penulis besar yang mampu membangkitkan kepercayaan diriku untuk menulis. Benar adanya gurusiana adalah rumah penulis tanpa kasta, tak segan Bunda Rai ( panggilan kesayanganku untuk Beliau ) berkunjung ke lapak-lapak penulis junior seperti kami, memotivasi, membesarkan hati kami ( meski tulisan kami tidak bagus pun , beliau tetap memujinya ), menyelipkan doa yang begitu indah juga untuk kami. Sungguh itu yang semakin membuat saya dan gurusianer yang lain merindu.

Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi yang mengabdikan diri menjadi tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan ini tak enggan berbagi. Meski berlatar belakang IPA namun tulisan sastranya sungguh luar biasa. Berbagai menu ada di rumahnya, cerpen Bu Arin Bukan Cinta Biasa pun selalu menghadirkan kisah seorang guru yang luar biasa. Menu parenting, opini, kolom bahkan resensinya pun sungguh mampu membius pembaca untuk membukanya. Alhamdulillah rasa haru bercampur aduk senang, bahagia ketika Beliau menyempatkan untuk membuat tulisan tentang buku saya http://raihanarasyid.gurusiana.id/article/karya-sastra-rasa-sains-2655184

Sebelumnya meski Bunda Rai masih sakit karena cidera kaki, beliau tetap aktif menulis, namun beberapa waktu yang lalu suami beliau mengabarkan tentang Bunda Rai yang kurang sehat, sungguh kami di sinipun semakin merindu. Teriring doa semoga Allah memberikan kesembuhan dan kita bisa bercengkerama lagi di sini, di rumah besar gurusiana. Syafakillah Bunda Rai....

@Teruntuk Bunda Raihana Rasyid

Rangkaian kata demi kata dirajutnya dengan indah

Amat menawan hati siapa saja yang membacanya

Inspiratif dan penuh motivasi, tak enggan untuk berbagi

Hati yang tulus, lembut seorang ibu, namun begitu teguh dalam pendirian

Anggun dan begitu peduli pada kami yang lemah

Nyalakan semangat literasi di mana pun berada

Amat bijak dan santun dalam berkomentar maupun bersikap

Ribuan jarak yang terbentang di alam nyata

Abaikan dan tetap terasa dekat dengan semangat seorang literat

Sahabat, guru, kakak dan sumber motivasi yang mumpuni

Yakin dan percaya diri disematkan pada kami

Impian indah tentang literasi dan anak-anak negeri

Diperjuangkan dengan hati, untuk kehidupan yang lebih berarti

Sunday, January 6, 2019

Gamis Hitam Kembang-Kembang


05 Jan @Cerpen

Bergegas kubuka plastik belanjaan sore ini. Sebuah gamis hitam kembang-kembang yang menawan hatiku, tadi waktu berjalan-jalan bersama teman-teman kantor. Kebetulan ada acara hajatan di rumah teman , kami pun berangkat beramai-ramai , pulangnya ternyata melewati toko Jm fashion yang lumayan familiar. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir sebentar ( dasar emak-emak ). Dan hasilnya gamis hitam kembang-kembang yang kini sedang kucoba. Aku pun memakainya dan mematut diri di depan cermin bak peragawati ( xixixixi....).

“Baru ya..? “

Suara yang sangat kukenal mengagetkanku.

“ Sudah pulang Mas, wah maaf ga dengar tadi,” jawabku merasa bersalah

“Iya ga papa, wong lagi asyik nyoba baju, ingat lho Dik...”

Duuh...rasanya seperti tertonjok mendengar suamiku mengingatkan.

“Iya Mas, aku masih ingat koq, membeli baju baru berarti harus ada yang keluar dari lemari kan?”

“Pinter....tak ada air putih nih? “

Hehehe...aku pun beranjak pergi ke dapur mengambilkan air putih untuk suamiku. Segera kuberikan kepadanya.

“Maaf ya Mas, tadi khilaf melihat gamis ini, habis murah pas ada diskon lagi. Aku juga dah lama pengen gamis kayak gini,”

“ Tak apa, yang penting ingat apa yang sudah menjadi kesepakatan kita. Lemari kita kan kecil Dik, kalau nanti beli baju terus bisa penuh. Masih pengen umroh kan?”

“Masih...,” jawabku segera.

“ Nah...kapan kita bisa menabung kalau banyak pengeluaran? “ Sekecil apapun coba untuk sisihkan. Baju-baju masih bagus dan layak pakai tak perlu beli yang baru. Takut fotonya pakai baju itu terus? Memang orang lain liat foto kita terus? “ Jelasnya.

Aku hanya tertunduk. Benar juga, aku sangat ingin umroh tahun ini, kalau mudah tergoda dengan baju-baju, gimana mau bisa nabung. Memang harga baju tak seberapa, tapi bagaimana dengan keperluan yang lain. Sedikit-sedikit kalau dikumpulkan bisa jadi bukit. Kulihat gamis hitam kembang-kembang yang kupakai. Terbersit penyesalan telah membelinya. Rupanya suamiku tahu perubahan sikapku.

“ Sudahlah..tidak apa-apa, cantik koq gamisnya, apalagi yang pakai ,” katanya membuyarkanku

Aku pun tersenyum kecil, nyessss....kelepek-kelepek kalau dah dipuji begitu. Aku segera berlalu dengan mendaratkan kecupan di pipi suamiku. Terima kasih Mas...kau memang yang paling mengerti.

Aku tahu kau hanya ingin mengajarkanku arti hidup sederhana. Baju-baju yang kita punya sebenarnya juga tak seberapa, dengan alasan lemari kecil kau selalu ingatkan aku tentang membeli dan memberi. Setiap ada pembelian maka harus ada baju layak lain yang harus keluar dari dalam lemari. Baiklah Mas, aku akan ingat dan tak mudah tergoda lagi, agar kita bisa umroh bareng ke tanah suci. Mudahkanlah Ya Allah....

05012019

Ring of Fire


04 Jan @Kolom

Tak bisa dipungkiri, fakta bahwa negara kita tercinta ini terletak dalam ring of fire atau Cincin Api Pasifik. Menurut wikipedia Cincin Api Pasifik atau lingkaran Api Pasifik adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi atau letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudera Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. Daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik .

Indonesia terletak di jalur gempa teraktif di dunia dan berada di atas tiga tumbukan lempeng benua, yakni Indo-Australia dari sebelah selatan, Eurasia dari utara dan Pasifik dari timur. Kondisi geografis ini mengakibatkan negara kita sangat rawan bencana, dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus dan lain sebagainya. Di satu sisi adanya gunung berapi mengakibatkan tanh-tanah di sekitarnya menjadi subur karena hujan debu yang dikeluarkan, sehingga masyarakat banyak yang tinggal di daerah lereng pegunungan untuk bercocok tanam, baik tanaman sumber makanan pokok, maupun tanaman sayur dan buah.

Fakta ini semakin tak terbantahkan, dengan bencana-bencana yang beruntun menimpa negeri ini. Kebetulan penulis tinggal di daerah Bantul DIY, sehingga pernah merasakan dahsyatnya gempa bumi dengan kekuatan 5,9 SR. Gempa yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006, meluluhlantakkan Bantul dan sekitarnya, dengan korban jiwa dan material yang tak sedikit. Tidak hanya gempa, kami pun pernah merasakan suasana yang mencekam dengan dentuman dan awan panas Merapi , hujan abu dan banjir lahar dingin. Pernah pula badai Cempaka menyapa kami, sehingga banyak jembatan yang ambrol, sawah yang gagal panen karena terendam air dan lain sebagainya. Gempa di Palu dan Donggala juga masih jelas dalam ingatan, setelah sebelumnya Lombok juga digoncang gempa dahsyat. Tsunami Selat Sunda pun masih terbayang disusul tanah longsor di Sukabumi. Mestinya kita bisa belajar dari semua ini. Menyadari sepenuhnya , tinggal di cakupan ring of fire, sehingga bisa mengambil sikap yang lebih bijak untuk kehidupan di masa depan. Bersahabat dan mengenal lebih jauh tentang alam tempat tinggal kita dan sekitarnya.

Dalam acara Taklimat Media Akhir Tahun 2018 , Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud ) Muhadjir Effendy pun mengatakan Kemdikbud akan memberikan dasar-dasar keterampilan atau basic skills kepada siswa, salah satunya mengenai mitigasi bencana. Hal ini tentunya bisa kita sambut dengan baik, mengingat negara kita yang berada di daerah rawan bencana. Semua lapisan masyarakat hendaknya paham dan mengerti dengan kondisi geografis daerah kita, sehingga bisa mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Pendidikan mitigasi bencana sebagaimana Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) bisa diintegrasikan ke dalam pembelajaran, jadi tidak berupa paket mata pelajaran khusus. Harapannya pada tahun ajaran 2019 sudah bisa diintegrasikan di dalam kelas.

Bila ditanya siapa yang mau terkena bencana? Tentu jawabnya tidak ada yang mau, namun ketika menyadari berada di daerah rawan bencana, apa yang bisa kita perbuat, selain lebih mengenal dengan sekitar. Tak ada satu helai daun pun yang jatuh ke muka bumi selain karena izin-Nya, apalagi bencana, maka sudah saatnya kita untuk bertawakkal , lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Kuasa. Kita sebagai khalifah semoga bisa menjalankan tugas dengan amanah, berjalan tanpa rasa congkak, mengambil setiap kejadian sebagai ibrah, untuk hari esok yang lebih indah.

Mencari Alasan


04 Jan @Kolom

Kulihat Zahra, putri kecilku tertawa-tawa melihat kartun di televisi. Aku pun jadi penasaran dan duduk di sampingnya. Dengan manjanya dia pun segera menggelendot kepadaku.

“Nonton apa Dik? Seru amat? “ tanyaku sambil mempermainkan rambut tipisnya.

“Spongebob Bund....lucu,” jawabnya sambil terus tak lepas dari pandangan layar.

Aku pun ikut ngakak melihat film kartun anak-anak ini. Menurutku dari beberapa film kartun yang sering kulihat ( karena harus menemani si kecil ) , Spongebob adalah adalah film yang layak ditonton anak-anak dengan bimbingan orang tua. Banyak film kartun lain yang mungkin juga menarik, lucu, tetapi kurang sreg untuk anak-anak. Kebetulan sore ini kisah si Spon kuning sedang mendapat tugas dari Nyonya Puff ( gurunya ) untuk menulis. Entah mengapa sesampai di rumah ia tak segera melaksanakan tugasnya, ia justru sibuk membersihkan rumah, mengepel, mengatur kamar yang sudah rapi. Hal-hal yang tak perlu dilakukan ia lakukan berulang-ulang. Kelakuannya sungguh membuat penonton ( aku dan anakku ) terpingkal-pingkal. Pensil yang digunakan untuk menulis pun dirauti terus hingga tinggal sedikit yang tersisa. Tak terasa hari sudah malam, si Kuning masih saja mencari-cari hal yang tak penting ( turun ke dapur memasak, makan, mencuci piring ) , sampai akhirnya ia kembali ke meja belajarnya dan membuka bukunya. Sekuat tenaga ia kerahkan kemampuan untuk menulis sampai keringat bercucuran namun tak satu kalimat pun
dituliskan, kertas selembar demi selembar berakhir di tempat sampah.

“Aku bisa, aku bisa....”

Berulang-ulang Spongebob mengucapkannya. Dan ketika ia berhasil menulis , hari telah menjelang pagi. Sebentar kemudian ia pun tertidur dan akhirnya bangun kesiangan. The end...

Sederhana, namun begitu banyak pesan yang terkandung di dalamnya. Terkadang aku merasa kesindir banget dengan film kartun anak-anak ini. Aku sering mencari-cari alasan ketika akan mengerjakan suatu hal yang baru. Alasan yang sengaja dibuat sendiri sebagai pembenaran ketika tugas tak berhasil kita lakukan. Kita kerjakan hal-hal yang kurang penting sebagai pelarian. Fokus dan kembali ke topik utama itu mungkin bisa digunakan sebagai arah jalan pulang ( kayak tersesat saja..hehehe).

@mencari alasan

Kaki terasa berat melangkah

Tangan terasa lemas

Mata pun enggan membuka

Hempaskan semua

Itu hanyalah malas yang melekat

Sengaja kita hadirkan

Tuk menjadi alasan

Agar ada pembenaran

Ketika tugas tak terselesaikan

Ayo sibakkan semua

Kita pasti bisa

Tak perlu mencari alasan

Singsingkan lengan

Lawan dan bangkitlah

Tinggalkan rasa tak bisa

Tinggalkan rasa tak kuasa

Beribu jalan terbuka

Tak ada yang buntu

Tak ada yang sia-sia

Semua begitu nyata

#edisiingatkandirisendiri#hariesoklebihbaik#

Maafkan Aku Nak...


03 Jan @Kolom

Hari ini aku berangkat lebih pagi karena mendapat giliran piket. Untunglah masih ada lauk , sehingga tugas memasakku agak longgar. Cukup membuat nasi pakai magic com dan memanasi lauk sebentar saja semua sudah beres. Bergegas sarapan bersama anak-anak dan bersiap berangkat. Rinai tipis-tipis masih setia menemani. Suamiku mengingatkan agar memakai mantol saja , biar tak kehujanan.

“Tak usahlah Yah...ga deras koq,” jawabku sambil memakai helm biru kesayangan. Tas saja yang kututup pakai mantol karena ada laptop di dalamnya.

Benar saja dugaanku, sampai sekolah sudah tidak gerimis. Kami pun menyambut kedatangan anak-anak di halaman sekolah. Menyapa dan menyalami mereka satu persatu dengan wajah ceria dan senyum termanis ( hehehehe...kayak among tamu ). Mengawali hari dengan senyum manis, sapaan bersahabat dan salam hangat diharapkan dapat membuat suasana yang kondusif dan menyenangkan bagi anak-anak, sehingga mereka merasa kerasan serta enjoy untuk belajar. Sejak program full day school dijalankan, hari-hari di sekolah menjadi lebih panjang, sehingga kenyamanan berada di sekolah mutlak diperlukan. Satu persatu guru dan karyawan pun berdatangan juga, sangat jarang ada yang terlambat, karena ada pengontrol kehadiran yaitu finger print.

Tepat pukul 07.00 bel masuk berbunyi. Kelas mulai ramai, doa dan lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dari seluruh kelas. Kami yang bertugas piket pun memastikan tidak ada kelas yang kosong.

“Permisi Bu, maaf mau minta surat izin,” tiba-tiba ada seorang siswa datang tergopoh-gopoh ke ruang guru.

“ Mengapa baru datang Mas? “tanyaku

“Saya tadi sudah sampai sekolah Bu, tapi terus pulang lagi, seragam saya salah,” jawabnya tertunduk .

Deg ....segera kutoleh kostumku pagi ini ( duuuh...ternyata bajuku hari ini juga keliru... ). Kuambil selembar surat izin dan kutanda tangani agar anak itu bisa masuk ke dalam kelasnya. Duh...malunya diriku, aku tidak bisa memberi contoh kedisiplinan . Muridku yang rumahnya begitu jauh dan ditempuh dengan sepeda saja pulang demi disiplin berseragam. Ada rasa bangga menyelinap dalam hatiku, mendapati siswa yang begitu besar memegang kedisiplinan, meski akhirnya terlambat . Seharian memakai seragam yang berbeda dengan teman-temannya pasti begitu menyiksanya sehingga dia memutuskan untuk pulang dan ganti saja. Semoga kau tidak hanya disiplin dalam berseragam saja, tetapi diikuti disiplin di hal-hal lainnya. Maafkan aku Nak...

#edisikoreksidiri#

Friday, January 4, 2019

Masakan Emak memang Maknyusss


09 Dec @Kolom

Berkumpul bersama orang-orang tercinta adalah kebahagiaan yang tak akan tergantikan dengan apa pun. Demikian juga hari ini, bahagia tak terkira bisa berkumpul bersama Kakung , Uti, suami, anak-anak dan keponakan. Setelah beberapa hari melakukan rutinintas pekerjaan hingga waktu untuk bercengkerama dengan keluarga pun kadang kurang, maka hari libur menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Minggu ini kami sempatkan untuk berkunjung ke rumah orang tuaku, yang akrab dipanggil Kakung dan Uti.

Dari semalam sudah ramai, dari mengajak Mbah jalan-jalan ke alun-alun kota, sampai makan bakmi jawa. Pagi-pagi sudah riuh lagi . Rupanya suami dan Bapak sedang menyembelih menthok. Menthok adalah hewan sejenis unggas, seperti bebek hanya perawakannya lebih tinggi dan besar. Bulunya berwarna putih atau ada yang hitam dan ada yang campuran hitam putih. Kakung Uti memang memelihara beberapa ekor. Pagi ini mereka menyembelih satu ekor yang paling besar.

Setelah Suami sama Kakung selesai menyembelih , dan meyabuti bulunya, kemudian memotongnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil , kini giliran aku dan Emak yang beraksi. Emakku seorang ibu rumah tangga tulen, sehingga dari dulu sangat lihai memasak. Kalau kami empat bersaudara berkumpul tak ada yang menandingi kemahiran Emak dalam memasak, apalagi aku, paling tidak bisa memasak ( Alhamdulillah meski demikian, suami dan anak-anak tidak pernah protes..hehehe ). Emakku mau memasak rica-rica menthok. Aku pun sebagai asisten Emak mengikuti petunjuknya satu-satu.

1. Langkah pertama adalah menghaluskan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, merica, miri , kunyit, cabe. Jahe, lengkuas dan serai cukup digeprek biar . Siapkan juga beberapa lembar daun jeruk.

2. Semua bumbu ditumis sampai harum, setelah matang masukkan daging menthok . Tambahkan air dan rebus sampai matang

3. Jangan ketinggalan garam, gula, dan kecap agar rica-rica semakin enak.

4. Waktu memasak agak lama, karena daging menthok ini banyak seratnya sehingga lebih lama dibanding dengan memasak daging ayam atai daging sapi.

5. Setelah daging empuk matikan kompor….dan jreng jreng jreng…..rica-rica menthok ala Emak pun siap disantap. Bisa ditaburi bawang merah goring agar lebih menggigit.

Begitulah tips memasak rica-rica ala Emak. Alhamdulillah semua senang dan bisa menikmati makan siang bersama keluarga. Sesungguhnya masakan apa pun ketika dibuat dengan cinta dibumbui dengan kasih sayang, rasanya menjadi luar biasa. Masakan Emak memang maknyuss…Sehat terus Kakung Uti, maafkan kami yang harus segera kembali ke rumah kecil kami.

Wonosari, 09122018

Kembali ke Sekolah


02 Jan @Kolom

Hujan tipis-tipis menemani perjalananku pagi ini menuju ke ladang . Ya... kantor tempat kita bekerja adalah ladang, tempat menyemai benih-benih kebaikan. Benih-benih itu pun harus dirawat, disiangi , disiram agar bisa tumbuh dan berkembang. Ada banyak benih yang bisa ditanam, berragam dan beraneka. Agar bisa tumbuh dengan baik tentu kita harus paham betul dengan karakteristik masing-masing tanaman, sehingga bisa memberi perlakuan yang tepat. Tidak mungkin kita memelihara kaktus dengan cara menyiraminya dengan air berlebih, karena justru akan busuk dan mati. Begitulah perumpamaan kita yang bekerja di lembaga pendidikan.

Aku segera mengurangi kecepatan motorku ketika memasuki gerbang sekolah. Anak-anak sudah mulai berdatangan, ada yang diantar orang tuanya, ada yang bersepeda dan ada juga yang jalan kaki. Wajah-wajah penuh ceria tampak jelas kulihat. Entah karena bertemu teman , dapat uang saku atau mungkin juga karena ketemu gurunya ya...( siapa tahu...). Yang pasti melihat senyum yang terpancar dari wajah kekanak-kanakan mereka membuatku senang. Aku hanya tersenyum kecil melihat kelakuan mereka. Setelah memarkir sepeda motor di tempat biasanya aku pun bergegas berjalan menuju ruang guru.

“ Assalamu’alaikum Bu Guru....,” sapa anak-anak sambil mendekati dan menyalamiku

“ Wa’alaikum salam ...,” jawabku sambil menyalami satu persatu, tak lupa senyum termanis kuberikan ( eeeaaaa...)

“Lama tak jumpa ya Bu...setahun...jadi kangen,”

“O ya....beneran nih kangennya,”

Kami pun tertawa bersama. Ada rasa bahagia yang tak bisa tergantikan ketika menyalami dan bercanda dengan mereka, anak-anak yang menjadi bagian dari ladang tempat aku bekerja. Kepolosan mereka, dan keunikannya menjadi hal yang kurindukan ketika sekian lama tak bertemu ( padahal cuma libur 2 minggu ). Tidak kita sadari kebersamaan dengan mereka membuat babak tersendiri dalam perjalanan karierku. Bersama mereka kujalani waktu sepanjang hari dari jam 07.00 – 16.00. Waktu yang tidak sebentar. Membersamai mereka dengan hati, seakan mereka adalah anak-anakku sendiri. Kuyakin, anak-anakku pun diperlakukan begitu juga oleh guru-guru mereka. Semangat belajar anak-anakku. Liburan telah usai, saatnya songsong hari esok dengan semangat dan harapan . Masa depan cerah menanti kita.

02012019

Sudah Cermatkah Kita?


04:22 @Kolom

Piyungan, 2 Januari 2019. Kami mengadakan RAT koperasi “ Warrastu “ yang dilaksanakan setelah pembelajaran. Acara diawali dengan pembukaan dan pengarahan dari Bapak Drs. Wiyono, M.Pd, kepala sekolah sekaligus penasehat koperasi. Menarik sekali apa yang beliau sampaikan, yaitu tentang menata hidup cermat.

Apa sebenarnya hidup cermat? Cermat menurut KBBI artinya penuh minat ( perhatian ); seksama; teliti. Namun jika terkait dengan keuangan maka cermat artinya berhati-hati dan teliti dalam penggunaannya. Merujuk dari dua pengertian tersebut maka apa yang disampaikan Bapak Kepala Sekolah cenderung ke point yang belakang yaitu terkait dengan keuangan atau perekonomian,

Menurut Beliau ada beberapa tips untuk menata hidup cermat. Berikut ini yang sempat saya catat dan pahami.

1. Skala prioritas

Skala prioritas selalu digunakan dalam setiap hal, termasuk ketika hendak membeli barang. Beberapa barang ingin dimiliki, terlebih barang yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi hendaknya kita tetap menggunakan skala prioritas berdasarkan kepentingan yang ada. Misalnya saja membeli kompor atau mesin cuci. Tentu saja berdasarkan kita harus menggunakan skla prioritas mana yang harus didahulukan. Terlebih sebagai ibu rumah tangga mestinya kita bisa belajar menata hidup kita agar lebih cermat dengan menggunakan skala prioritas. Mengapa ? Karena Ibu rumah tangga juga harus mampu menjadi menteri keuangan dalam rumah tangganya.

2. Sesuai kebutuhan

Belilah barang sesuai dengan kebutuhan, sehingga ketika banyak penawaran barang-barang, selama tidak membutuhkan, maka tidak perlu untuk membelinya. Mengurangi sifat konsumtif, apalagi ketika berada di mall atau supermarket. Ini banyak terjadi, niat membeli gula , ketika sudah sampai di tempat, tidak hanya gula yang masuk ke keranjang tapi justru lebih dari itu, jelas ini contoh yang kurang cermat ( dan ini sering saya alami...duuhhhhh... ). Baju masih bagus-bagus, tetapi begitu ada penawaran tergiur dan akhirnya membeli juga. Bagaimana dengan Anda ? Padahal kalau dipikir baju kita masih banyak dan bagus-bagus, iya kan? Jadi agar bisa hidup cermat maka belilah sesuai dengan kebutuhan.

3. Survey sebelum membeli

Survey atau mengecek beberapa tempat ketika akan melakukan pembelian barang yang besar itu perlu dilakukan. Misalnya saja mau membeli motor, kita bisa melakukan survey baik harga maupun jenisnya di beberapa toko ( dealer ) untuk mendapatkan perbandingan harga . Cermat bukan berarti pelit. Keduanya mungkin sama-sama mengirit dalam pengeluaran, tetapi konteksnya berbeda. Cermat lebih pada pertimbangan dan logika dalam mengambil keputusan sehingga ada azas ekonomi di dalamnya.

Sudah cermatkah kita ? Saatnya untuk melakukan koreksi diri, agar kita bisa menata hidup cermat. Menata hidup dalam perekonomian keluarga untuk kehidupan yang lebih baik.

03012019

#edisibelajarekonomi#latepost#

Bersahabat dengan Alam


02 Jan @Kolom

Luka belum juga mengering, bahkan air mata pun masih membasahi pipi karena terjangan tsunami di Selat Sunda , Indonesia kembali berduka. Kali ini kabupaten Sukabumi terjadi tanah longsor. 31 Desember 2018 sore di saat sebagian orang-orang bersiap menyambut pergantian tahun dengan pesta yang gempita, terjadi bencna tanah longsor. Perbukitan yang dijadikan pemukiman retak dan longsor hingga menimbun rumah-rumah yang ada di bawahnya. Korban pun masih banyak yang belum ditemukan. Hari yang semakin gelap menambah sulitnya untuk mengevakuasi korban.

Duka dan air mata seakan masih enggan beranjak dari negeri ini. Pedih namun apalagi yang bisa kita perbuat selain berdoa dan membantu mereka yang sedang kesusahan. Semua ini sudah menjadi suratan yang harus kita jalani. Semestinyalah kita semakin tawakkal dengan adanya berbagai kejadian yang menimpa negeri ini. Kita semakin kuat , tatag dan tangguh . Mestinya bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian, memanfaatkan waktu yang masih diberikan agar semakin bermanfaat.

Bermukim di perbukitan memang rawan longsor, namun karena sudah turun temurun, lereng ini tetap dihuni oleg puluhan rumah dengan warga sekitar seratusan lebih. Dari ratusan sedikit yang bisa menyelamatkan diri. Siapa yang sangka tanah yang selama ini ditempati dan adem ayem, akhirnya longsor dan menyisakan lara yang menyesakkan. Tekstur tanah yang gembur serta Intensitas dan curah hujan yang tinggi menjadi penyebab utama terjadinya longsor.

Sudah saatnya kita peka dan bisa membaca tanda-tanda alam. Sebenarnya indikasi tanah longsor bisa diamati melalui fenomena atau gejala alam yang tampak. Faktor yang utama adalah curah hujan, sehingga ketika intensitas hujan tinggi, mestinya masyarakat mulai waspada . Selain itu adanya retakan tanah, mata air di permukaan yang terdapat di tebing-tebing . Mata air di permukaan ini bila terus menerus diguyur hujan akhirnya akan mengakibatkan tanah longsor. Kepekaan terhadap gejala alam di sekitar kita adalah hal yang sangat penting mengingat terbatasnya peralatan yang bisa mendeteksi adanya tanda-tanda tanah longsor. Jadi kita tidak bisa menggantungkan diri pada peralatan .

Manusia memang hanya menjalani, namun saatnya berikhtiar, bersahabat dengan alam sekitar dan peka terhadap lingkungan, agar kita bisa membaca tanda-tanda yang telah diberikan alam. Pohon-pohon yang semestinya menjadi benteng dan pertahanan tanah mari lestarikan.

Bumi masih berputar dan mentari pasti akan menyinari gelap ini, semoga saudara-saudara kita yang tengah berduka diberikan kesabaran dan bangkit lagi , karena sesungguhnya Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan. Bismillah

#kuatkanhatikami#hariesoklebihbaik#

Rumahku,02012019

Wortel, Telur atau Kopi?


01 Jan @Kolom

Ketiga benda ini sudah tidak asing lagi keberadaannya di rumah kita. Nah, dari ketiganya mana yang paling Anda sukai? Tiap orang tentu berbeda-beda. Dalam satu keluarga saja kami memiliki kesukaan yang tidak sama. Anakku yang kecil sangat suka wortel. Dia sudah terbiasa makan wortel mentah yang hanya dikupas dan cuci saja. Aku pun selalu menyediakannya di kulkas, selain karena si kecil suka wortel juga sering kugunakan untuk membuat nasi goreng. Daripada menggunakan saos tentu akan lebih aman dan sehat menggunakan beta karoten pewarna alami yang ada pada wortel. Rasanya pun lebih mak nyuss...selain itu yang tak kalah penting wortel mengandung vitamin A yang baik untuk kesehatan mata . Caranya pun cukup mudah, kita tinggal parut wortel dan menyampurnya ke dalam nasi goreng pada waktu proses penggorengan.

Si Sulung lebih memilih telur. Jelas saja dia lebih suka telur, karena kegemarannya membuat omelet. Telur ini pun selalu stand by di kulkas. Lauk yang praktis dan bisa dibuat beraneka menu masakan. Cuma harus hati-hati bagi yang alergi, kalau kebanyakan telur bisa bisulan. Nah..yang terakhir Ayah, dia paling suka kopi, karena memang kegemarannya minum kopi. Pagi hari sebelum beraktivitas secangkir kopi dan camilan membuat fresh dan menghilangkan rasa kantuk katanya.

Apa yang terjadi bila ketiga benda itu kita rebus dengan air panas sekita lima menit saja?

Wortel yang semula begitu keras, kress ketika dimakan mentah, masuk ke dalam air ternyata berubah. Ia menjadi lembek dan empuk. Lalu bagaimana dengan telur? Sebelum masuk ke dalam air telur sangat rentan pecah . Namun setelah direbus, telur menjadi keras. Terjatuh pun ia tidak akan pecah. Yang terakhir kopi, sebelum direbus warnanya hitam dan biasa saja, namun ketika masuk air panas, sungguh berbeda. Emmmm...aromanya sangat khas , wangi dan menggugah, air pun berubah warnanya menjadi hitam, bahkan ketika diminum pun sangat nikmat, sampai tetes terakhir ( bukan iklan...).

Seperti apakah kita dalam menghadapi hidup ini ? Apakah kita seperti wortel, yang tadinya begitu keras namun berubah menjadi lembek dan lemah ? Atau seperti telur, yang tadinya begitu lemah tiba-tiba mengeras ? Atau seperti kopi, yang bisa memberi warna baru dan memberikan aroma yang segar dalam hidup ini namun tetap keras ? Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang ( kayak lagu aja ...), jelas mereka pun tak tahu jawabny. Kita sendirilah yang paling tahu , seperti apa dan mau jadi apa .

#semogahariinilebihbaik#

Kemarin...


01 Jan @Kolom

Sayup kudengar lagu yang terasa begitu menusuk jantung. Perih serasa mengiris-iris kalbu. Liriknya seakan begitu nyata, menggambarkan rasa yang merana, mencari sang belahan jiwa , pujaan hati , pelipur hati nan lara yang hilang entah ke mana. Dunia berubah dalam kedipan mata, indah tak selamanya.

Kemarin engkau masih ada di sini

Bersamaku menikmati rasa

Berharap semua takkan berakhir

Bersamamu, Bersamamu

Kemarin dunia terlihat sangat indah

Dan denganmu merasakan ini semua

Melewati hitam putih hidup ini

Bersamamu, bersamamu

....by Seventeen

Ya...kemarin telah berlalu, menjadi sebuah kenangan. Beberapa babak kita lalui bersama sang waktu, yang akhirnya menjadi sebuah cerita. Entah itu kenangan manis maupun kenangan yang hitam. Semua telah terjadi . Sesekali waktu bisa kita buka untuk belajar dan merenunginya. Sebuah kenangan indah, tentu akan manis terkenang dan berharap akan terjadi lagi dengan yang lebih indah di hari ini. Namun bila kenangan yang menyakitkan, biarlah menjadi sebuah pembelajaran, menjadi cermin cembung yang bisa digunakan untuk spion agar tak terulang.

Hari ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Suka maupun duka, hitam atau pun putih harus kita hadapi dengan kebesaran dan keikhlasan hati. Jalani hidup dengan penuh syukur, karena masih diberi kesempatan menghirup udara segar di awal bulan Januari. Lebih berhati-hati, lebih bijak dan dewasa dalam melangkah. Hati yang ikhlas akan lapang dalam menjalani hari ini. Gigih berjuang tanda ikhtiar dibentangkan untuk menggapai asa yang kemarin belum tergapai. Jalani hari bagaikan berjalan di atas bebatuan yang terjal dan tajam. Berhati-hati dan penuh perhitungan. Sesekali lihatlah belakang melalui spion kita, agar bisa memperkirakan langkah yang tepat. Namun jangan lupa lihat ke depan, agar tak berbelok arah. Hati-hati pula dengan ranting di atas jalan, sesekali mendongak atau pun menunduk ke bawah.

Esok adalah harapan. Terbentang luas seluas cakrawala. Bak kanvas yang begitu bersih. Mari siapkan perbekalan, agar bisa kita buat lukisan yang menawan dan sedap dipandang. Jadikan hidup ini penuh warna seindah pelangi setelah hujan menyapa.

Kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan, dan esok adalah harapan. Berjalan dengan penuh keyakinan dan tetap di rel yang seharusnya. Tak perlu meratapi masa lalu yang kemarin, karena hari ini mentari masih bersinar lagi membawa asa dan semangat baru untuk melanjtkan perjalanan dan menyongsong hari esok yang penuh harapan.

#semogaharinilebihbaik#

Mengapa Orang Tidak Mau Menulis ?


31 Dec @Kolom

Setelah mengunggah tulisan biasanya aku akan membaginya pada grup di gawaiku. Tidak semua grup kubagi link tulisan, karena memang grupku bermacam-macam. Tentu sangat tak enak ketika menyebar link di tempat yang kurang tepat. Tanpa sedikit pun niatan pamer tulisan , menurutku dengan membagi tulisan, kita bisa menghindari penyebaran berita hoax( menurutku lho...). Terlebih dengan adanya UU ITE ( Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik ) tentu kita harus lebih berhati-hati menyebarkan berita. Terbukti dengan menulis sendiri , sangat mengurangi bahkan jarang untuk copas tulisan yang belum tentu kebenarannya. Dengan demikian menulis bisa memutus rantai penyebaran hoax.

Melalui penelitian tipis-tipis ( duileee….sok ilmiah ini ), kutemukan beberapa alasan mengapa orang tidak mau menulis versi responden yang saya temui lho …

1. Tidak bisa menulis

“ Saya tidak bisa menulis, “ begitu kalimat yang sering terlontar dari beberapa orang yang sering saya ajak diskusi tentang menulis. Apakah benar tidak bisa menulis? Menurut saya sangat tidak benar. Di zaman sekarang hampir bisa dihitung orang yang tidak mempunyai gawai. Bahkan satu orang bisa memiliki beberapa . Tidak ada kalangan atas maupun bawah, gawai menembus hingga ke mana-mana. Grup-grup menjamur bak cendawan di musim hujan. Satu orang saja bisa memiliki lebih dari 50 grup ( ya ampuun, banyaknya….) Dari grup alumni TK,SD, SMP,SMA, dan masih banyak lagi grup lain. Apakah tidak ada interaksi di grup? Ramai bukan? Artinya di situ ada aktivitas membaca dan menulis. Jadi hampir semua orang pada dasarnya bisa untuk menulis. Menjawab chat dengan panjang dan sangat jelas itu termasuk menulis. Ini tentu menjadi modal dasar untuk menulis. Tinggal mengembangkan saja dari apa yang dibaca dan dituliskan. Jelas fakta pertama tidak bisa digunakan sebagai alasan untuk tidak menulis.

2. Tidak punya waktu luang

“ Saya tidak punya waktu luang untuk menulis ,”

Jawaban yang sering disampaikan oleh orang-orang yang sangat sibuk, banyak aktivitas, dan juga wanita karier dengan kesibukan rumah tangganya. Sangat masuk di akal alasan ini. Memang menulis perlu wakt. Kita tak akan bisa menulis bila tidak meluangkan waktu. Jadi jangan menunggu waktu luang untuk menulis, tetapi luangkan waktu . Terus bagaimana dengan kesibukan dan aktivitas yang sangat banyak? Akar masalah berarti bukan pada waktu luang tetapi pada manajemen waktu. Wanita karier dengan kesibukan utama sebagai ibu rumah tangga bisa menulis di saat- saat tertentu. Setelah kegiatan rumah selesai, ketika anak-anak sudah tidur, menjelang subuh, tengah malam , atau tergantung pada pribadi masing-masing untuk mencari waktu yang pas. Sedikit pemaksaan ya….. , kita memang harus meluangkan waktu untuk menulis.

3. Alasan yang ketiga nanti saja ya, karena saya harus cabut untuk urusan yang lain ( sok sibuk …...) Sudah ada point-point dalam catatan saya , mudah-mudahan nanti ada kesempatan eh bisa menyempatkan diri untuk mengembangkannya.

#edisibacalingkungan#hariesoklebihbaik#marimenulis#

Tulisan Saya Jelek


31 Dec @Opini

Tulisan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari artikel saya tadi pagi, tentang “ Mengapa Orang Tidak Mau Menulis “. Berhubung tadi sudah sampai nomer dua, maka berikut ini adalah nomor selanjutnya. Cekidot….

3. Tulisan saya jelek

Memangnya menggunakan pensil atau ballpoint? Huruf-huruf di computer/ laptop fontnya bagus-bagus tidak ada yang jelek. Hehehe..tentu bukan ini yang dimaksud ya, lebih tepatnya dilihat dari sudut pandang materi atau kualitas tulisan. Bisa menilai jelek, itu berarti kita sudah hebat lho ( mampu menilai ). Saya pernah mempunyai perasaan yang sama dan kalimat yang sama yaitu “ tulisan saya jelek “. Untunglah ada penulis hebat yang memberikan motivasi dan selalu saya ingat.

“ Jangan pernah menghakimi tulisan Anda sendiri , “

Saya pun merenung. Bayangkan, sebuah ide untuk menjadi tulisan tentu telah melewati proses yang panjang, dengan menyita waktu dan energy. Setelah jadi tulisan dengan mudahnya kita mengatakan jelek. Sangat tidak adil bukan? Jerih payah seolah tiada harganya. Kita harus punya mental untuk menghargai tulisan. Kita sering mendengar orang berkata, “biarkan tulisan menemukan takdirnya sendiri, eh pembacanya,” So…kita harus percaya diri ( modal nekad untuk belajar lebih baik ) . Sebuah tulisan merupakan hasil karya , sehingga seperti apapun pantas untuk dihargai. Tidak ada pembacanya? Biar saja, mungkin tidak untuk saat ini, tapi yakinlah suatu saat ada yang membaca tulisan kita. Takut tulisan kita menjadi sampah? Jangan khawatir tidak semua sampah harus dibuang, masih ada sampah yang bisa kita olah kembali menjadi barang yang bermanfaat. Sekali menulis langsung bagus, itu hebat. Tetapi berkali-kali menulis dan akhirnya menjadi bagus itu luar biasa. Proses yang luar biasa akan membuahkan hasil yang super pula.

4. Tidak memiliki ide

Ide bisa didapatkan di mana saja dan kapan saja. Bahkan ada seorang penulis yang paling banyak mendapatkan ide ketika ( maaf ) sedang ke belakang . Ada yang mendapat ide ketika sedang mencuci. Ada yang mendapat ide ketika sedang bepergian dan lain-lain. Ide sangat banyak bertebaran di sekitar kita. Bisa kita mulai dari diri sendiri, orang di sekitar kita, atau apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Bisa menggunakan panca indera kita untuk mencarinya. Catat ide pokoknya dalam note pad atau block note kecil, sehingga nanti bila memungkinkan baru dikembangkan menjadi tulisan. Kemampuan menangkap ide ini pun tidak sekali lihat langsung peka jadi ide. Tiap orang berbeda-beda . Dan ini yang harus kita latih, ketrampilan dan kepekaan menangkap ide yang ada. Masih bingung mencari ide?

5. Sudah banyak yang menulis

Lhoo…? Sudah banyak yang makan, tapi kita makan juga. Sudah banyak yang mengajar, tetapi kita mengajar juga. Sudah banyak orang melakukan kebaikan, maka kita pun juga harus bisa melakukan kebaikan. Dalam sebuah refleksi diri, sesuatu yang mendatangkan kebaikan dan manfaat mestinya harus kita pertahankan. Dan bila menulis membawa banyak kebaikan untuk diri ini dan orang lain, why not? Gaya menulis tiap orang berbeda-beda. Genre atau alirannya pun berragam, jadi tidak masalah ketika topik yang sama dituliskan oleh beberapa penulis. Gaya menulis, pilihan kata dan juga rasa yang ada pasti akan berbeda-beda pula. Jadi kalau orang lain saja banyak yang mau menulis, mengapa kita tidak?

Masih ada alasan lain?

#edisibacalingkungan#marimenulis#hariiniharuslebihbaik#

Menangis dan Tertawa


30 Dec @Kolom

Tangisanmu memecah kesunyian malam itu. Tepat pukul 01.10 menit kau hadir ke dunia ini Nak. Semua begitu gembira menyambut tangisan pertamamu. Air mata bahagia dari orang-orang di sekelilingmu mewarnai dua pertiga malam itu. Rasa bahagia yang membuncah membuatku tak mampu berkata-kata. Terlebih ketika Ayahmu menggendong dan memperlihatkannya padaku. Kudekap erat dalam pelukku. Ku usap lembut tubuh mungilmu. Yaah…aku jadi baper, mengenang masa-masa berjuang melahirkanmu.

Melahirkan adalah suatu proses yang membuatku semakin menyadari akan arti sosok Ibu dalam hidupku. Melalui berbagai proses dari ngidam , bedrest, hingga melahirkan membuatku semakin kagum dan menyayangi Ibukku. Betapa tidak, seorang wanita harus bersusah payah mengandung hingga mempertaruhkan nyawa demi kelahiran buah hati tercinta. Sungguh sangat tak pantas bila kita sedikit saja berbicara agak keras atau bahkan melukai perasaannya.

Malam-malam panjang dilalui oleh seorang ibu untuk menjaga dan memastikan bayinya bisa bobok dengan nyenyak tanpa satu pun nyamuk mengganggunya. Ketika sang bayi ngompol pun, ibu tetap terjaga dan bergegas mengganti popoknya agar bayi tidak masuk angin. Sungguh perjalanan dan perjuangan seorang ibu agar kita bisa menjadi anak yang mandiri dan bisa melakukan apa-apa sendiri sangatlah panjang.

Aku tertegun ketika mendapati sebuah tulisan yang ditulis dengan begitu indah di sebuah diary yang kutemukan siang itu. “ Kau dilahirkan Ibumu menangis, sedang orang-orang di sekitarmu tertawa ria. Maka bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar kelak orang-orang menangis atas kepergianmu “

Kalimat itulah yang selalu kujadikan motto dalam hidupku. Aku terlahir ke dunia ini melewati perjuangan seorang wanita. Perjuangan yang begitu gigih dan diiringi deraian air mata karena menahan kesakitan. Namun kesakitan itu seakan sirna begitu saja begitu melihat bayi mungil itu telah lahir ke dunia. Tak berhenti sampai di situ , dia terus berjuang untuk anaknya. Di sekitar tentu orang tertawa ikut merasakan kebahagiaan .

Kehidupan menempa kita. Begitu banyak pilihan mau jadi apa dan bagaimana. Kesungguhan dan upaya perbaikan diri agar menjadi insan yang bermanfaat dan bermartabat harus dilakukan, karena sebaik-baik insan adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Bila waktu telah usai, maka orang-orang pun akan tetap mengenang arti kehadiran kita. Semoga kita berhasil menempa hidup kita menjadi insan yang lebih baik.

Selamat Datang Boy


30 Dec @Kolom

Alhamdulillah…akhirnya sampai juga di my sweet home. Aku pun segera membersihkan diri dan menunaikan ibadah shalat Maghrib. Lumayanlah badan menjadi lebih segar, setelah menempuh perjalanan melewati padatnya lalu lintas kota Jogjakarta. Terlebih di musim liburan ini, kendaraan sangat ramai. Bus-bus luar kota pun banyak yang lalu lalang melintas di kota kecil ini. Sudah mirip ibu kota, kemacetan di mana-mana. Tak bisa kubayangkan bagaimana padatnya Jogja 20 tahun yang akan datang. Maklumlah kota Gudeg yang terkenal dengan julukan Kota Pelajar ini memang layak disebut miniaturnya Indonesia, hampir seluruh suku bangsa ada di daerah ini. Apalagi mereka yang tercatat sebagai pelajar, mahasiswa dan pencari ilmu tumpah ruah memadati.

Kubuka gawaiku yang sedari tadi terabaikan. Wooow…sudah banyak pesan masuk yang belum sempat kubaca. Perhatianku langsung tertuju pada salah satu grup tempat aku bekerja, mencari penghasilan, mengabdi pada negara, berusaha memajukan pendidikan anak-anak bangsa ( eeaaaaa ...). Ramai banget ada apa gerangan ya, membuatku semakin penasaran. Tak sabaran segera kubuka percakapan.

Ternyata anggota grup sedang memberikan ucapan selamat kepada salah satu teman kami, Mas Debrita Septembri, S.Kom. Beliau adalah guru IT handal di sekolah. Kami lebih suka memanggilnya Mas Deb, karena usianya memang paling muda di antara kami. Kebahagiaan ini disebabkan karena Mbak Tri , istri Mas Deb telah melahirkan bayi laki-laki yang sehat Sabtu sore. Tepatnya pukul 15.10 WIB, dengan berat badan 3,4 kg dan tinggi badan 48 cm.Kabar ini tentu kami sambut dengan gembira. Tentu saja ini melengkapi kebahagiaan rumah tangga mereka setelah sebelumnya dikarunia putri kecil yang cantik. Kami segenap keluarga besar SMP 2 Piyungan pun turut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Mas Deb dan keluarga, teriring doa serta harapan. Semoga Ananda sehat dan menjadi anak yang sholih, berbakti pada orang tua , berguna bagi nusa dan bangsa dan menjadi generasi harapan ummat. Aamiin

Selamat datang di dunia ini Nak, ingatlah ketika kau dilahirkan Ibumu menangis . Air mata perjuangan seorang ibu agar kau bisa melihat indahnya dunia ini. Air mata penuh kaharuan dan kebahagiaan. Orang-orang di sekitarmu tertawa ria penuh dengan kebahagiaan menyambut kehadiranmu. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa hidupmu, agar kelak orang-orang menyadari akan arti keberadaanmu.

Selamat datang boy…

Rindu Sahabatku, Nurmalia Siregar


29 Dec @Kolom

Benar ternyata apa kata Dilan.

“ Jangan rindu, berat. Biar aku saja ,”

Betapa hati ini tak merindu, sekian lama rasanya tak bertemu dengan salah satu sahabat kesayangan, yang kehadirannya selalu kuimpikan. Siapa lagi kalau bukan Bunda Nurmalia Siregar. Setiap bertandang ke rumah besar, aku selalu mencarinya. Namun sudah hampir seminggu , bahkan mungkin lebih aku tak jua bisa menemukannya. Kubuka kamar-kamar yang ada , dari opini hingga Parenting, tapi nihil semua. Ke mana gerangan dirimu Bunda ?

Kami memang belum pernah bertatap muka. Awal berjumpa di gurusiana dengan saling berbalas komentar, akhirnya terjalinlah rasa persahabatn dan persaudaraan seolah-olah kami sudah sangat mengenal. Kuketuk kamar Bunda Nurmalia Siregar , di sana kutemuikan jejak pada tanggal 22 Desember 2018. Di hari itu beliau mengunggah tiga artikel tentang ibu. Selang sebelumnya Bunda Nurmalia juga tak muncul. Kemunculannya sebelum hari ibu adalah tanggal 13 Desember 2018, menulis tentang rumah tidak perlu besar-besar, karena pada akhirnya percuma. Hati menjadi bertanya-tanya, Mengapa?Ada apa?

Kehadirannya sungguh memberi warna yang indah pada rumah besar ini. Khas tulisannya tentang perasaan yang diambil dari lingkungan sekitar sehingga begitu nyata dan dekat. Setiap gejala yang tampak Beliau tuliskan dengan kalimat-kalimat yang begitu indah, sehingga hati begitu terbawa mengikuti alurnya. Tulisannya sangat menguras emosi pembaca. Sehari dua hari terus kutunggu, namun kabarnya tak jua kudapatkan.

Lewat tulisan ini aku berharap, Beliau membacanya dan mengobati rasa rinduini. Kuyakin tidak hanya aku seorang. Sahabat-sahabat yang lain pun pasti bertanya-tanya. Pak Edi Prasetyo pun pernah mencarinya juga. Hal ini patut dimaklumi karena Bunda Nurmalia seorang penulis yang produktif. Sehari ada beberapa artikel yang beliau tuliskan, dan semua karyanya selalu indah dan sayang untuk dilewatkan.

Berbagai hipotesis pun muncul ( hadeeeh kayak penelitian saja ya Bun…maaf ). Di antaranya apakah Bunda Nurmalia sedang menikmati liburan bersama buah hati dan keluarganya? Ini sangat masuk akal, karena putra-putra beliau belajar di pondok, sehingga sangat jarang bersama. Bunda Nurmalia pasti tak akan melewatkan “ quality time “ bersama keluarganya. Ya apapun itu aku sangat berharap Bunda Nurmalia Siregar sehat dan baik-baik saja. Kalau sampai beberapa hari tidak hadir di rumah besar tentu ada kegiatan yang jauh lebih penting. Sehat dan sukses terus Bunda Nurmalia.

Penuh rindu dari sahabatmu.

Maafkan Aku , Ibu...


29 Dec @Cerpen

Di luar hujan tampak semakin deras, tetesannya begitu kencang di genting rumahku. Kubiarkan jendela kamar terbuka. Tirainya pun melambai tertiup angin. Temaram lampu luar tak mampu berlomba dengan gelapnya malam yang tenggelam dalam derasnya hujan. Anganku menerawang jauh, menembus lebatnya hujan.

" Sudah malam Nak, ditutup ya jendelanya," suara lembut Ibu mengagetkanku.

Aku hanya mengangguk pelan tanpa beranjak. Entahlah ...kaki ini terasa begitu berat. Ibu pun menutup jendela, kemudian menghampiriku. Perempuan yang sudah tak lagi muda itu menatapku penuh kasih dan duduk di sampingku.

" Nak...maukah kau mendengarkan cerita Ibu?” tanya Ibu sambil mengelus pundakku.

Aku hanya mengangguk lemah.

" Tahukah kau Nak...waktu kau masih belajar berjalan dirimu sungguh lucu. Ibu selalu bersamamu, tak ingin sedikit pun melewatkan setiap moment dalam pertumbuhanmu. Kau gadis kecilku yang cantik dan menggemaskan. Tiap kali terjatuh, kau pasti akan bangkit lagi. Satu dua langkah kau pun terjatuh lagi, namun kau selalu bangkit lagi. Waktu kau sudah bisa berjalan , engkau pun mencoba belajar berlari. Tak sekali dua kali kau terjatuh , entah tersandung batu atau yang lainnya. Namun setiap jatuh kau pasti akan bangkit dan berlari ke pelukan Ibu. Ku harap sekarang pun begitu Nak, meskipun kau terjatuh, bangkitlah Nak..jangan seperti ini.. Ibu yakin kau bisa bangkit lagi "

Deg...kata-kata Ibu terasa menyentak dadaku. Aku gadis kecilnya yang selalu bangkit kembali ketika terjatuh. Mengapa sekarang begitu rapuh? Mengapa aku begitu lemah?

" Ibu tahu Nak, dikhianati itu sangat menyakitkan, tetapi sadarkah kau, sebenarnya dialah yang sangat rugi ketika meninggalkanmu. Dia rugi karena meninggalkan seorang gadis yang cerdas sepertimu. Berarti dia memang tak pantas untukmu. Ibu yakin Nak, Tuhan telah menyiapkan jauh yang lebih baik untukmu. Yakinlah wanita yang baik, pasti akan mendapatkan lelaki yang baik pula, “

Aku seperti tertampar dengan kata-kata Ibu. Selama ini aku terlalu menuruti kata hatiku, tanpa bisa berfikir nyata dengan logika. Aku segera beranjak. Ibu benar, untuk apa aku meratapi lelaki yang tak punya hati, lelaki yang telah mempermainkan perasaan. Lelaki yang tak punya nyali. Dia telah pergi, mengingkari janji yang pernah diberi.

" Maafkan aku,Ibu.."

Pecah tangisku di pelukan Ibukku. Aku tak ingin mengecewakan wanita yang telah mempertaruhkan hidupnya untukku. Aku tak ingin Ibu bersedih . Aku akan bangkit Ibu. Meski usiaku sudah berkepala dua , aku masih gadis kecilmu yang dulu. Terima kasih Ibu.

Terima Kasih Pak Guru ( H. Ahmad Syaihu )


27 Dec @Kolom

Sekitar jam 08.25 WIB aku sampai di sekolah. Kuajak gadis kecilku turut serta , karena beberapa hari kemarin harus kutinggalkan . Sebisa mungkin kunikmati liburan yang masih tersisa ini bersamanya. Ada beberapa teman guru yang sudah hadir juga. Setelah bersalam-salaman kami pun mngerjakan tugas masing-masing sambil ngobrol ke sana ke mari.

“ Bu Upik, ada paket nih, “ Mbak Imah istri Mas Antok satpam sekolahku menghampiri.

“ O , ya, makasih ya Mbak, “ jawabku sambil menerima bingkisan warna hijau.

Benar saja tertulis untukku. Tak sabar segera kubuka bingkisan itu. Dua buah buku dari seorang penulis populer gurusiana. Siapa lagi kalau bukan dari Pak Guru H. Ahmad Syaihu. Alhamdulillah, syukur dan rasa terima kasih tak terkira . Tak terlukiskan rasa gembira dengan kata-kata.

Fakta sudah membuktikan ternyata menulis memang banyak membawa manfaat dan berkah. Salah satunya adalah hari ini, aku bisa mendapatkan buku Pak Guru. Memang buku ini tidak kudapat secara percuma. Waktu itu Beliau ingin mencari cara atau solusi untuk berhenti menulis, komentar terbaik akan diberi hadiah. Jujur lepas dari hadiah , aku memang sering membaca tulisan para gurusianer populer, untuk belajar, mencari ide , inspirasi dari karya-karya mereka . Kemudian meninggalkan jejak berupa komentar , tetapi waktu itu komentar saya sebenarnya tidak sesuai dengan judul Pak Guru, karena saya sama sekali tidak punya solusi untuk berhenti menulis.

Sesuatu yang baik mengapa harus dihentikan? Bukankah justru harus dipertahankan dan ditingkatkan? Pikirku dengan cepat. Dan ternyata tulisan saya mendapat apresiasi dari pak Guru berupa buku yang kemudian dikirim ke kantor saya. Terima kasih Pak Guru, teruslah berkarya dan menginspirasi dunia literasi untuk anak negeri. Jazakumullah khairan katsiro.

@ Teruntuk Pak Guru

Aneka topik selalu menjadi ide untuk dituliskan

Hampir setiap hari tak pernah terlewatkan

Menulis dan menginspirasi para perindu literasi

Agar tetap berkarya untuk negeri ini

DI mana pun dan kapan pun , teruslah berbagi

Semangat juang nan tinggi

Yakin dan melangkah dengan pasti

Agar literasi tetap berkobar

Inginkan bangsa yang lebih bermartabat

Hiasi pertiwi dengan berjuta prestasi

Untuk kehidupan yang lebih berarti

Renungan Malam


27 Dec @Kolom

@ Renungan Malam

Di darat, gempa menggoncang

Di laut, tsunami menerjang

Di udara, pesawat pun jatuh...

Di mana pun berada

Tak ada tempat tuk sembunyi

Ketika tlah sampai pada janji

Semua pasti akan menemui

Tinggal bagaimana kita menyikapi

Selalu melangkah dengan hati-hati

Mendekatkan diri pada Illahi

Sang Pemilik jiwa dan hati

Semoga Allah selalu melindungi...

Semestinya kita bisa bermuhasabah, melakukan refleksi diri

@ Refleksi diri

Rangkaian kata demi kata

Entah sudah yang keberapa

Fakta betapa banyaknya kata yang tersimpan

Luapan beragam rasa suka maupun duka

Engkau bak lilin di malam gelap

Koreksi dan evaluasi setiap denyutan nadi

Sudahkah kau tebarkan kebaikan hari ini?

Ingatlah tak selamanya hidup itu abadi

Dunia perlahan pasti kan pergi

Ikuti takdir yang tlah tertulis jauh hari

Refleksi untuk hidup yang lebih bermanfaat

Inginkan diri menjadi pribadi yang berarti

Target dan Realisasi


27 Dec @Opini

Desember hampir berakhir, tinggal menghitung hari saja. Bulan di akhir tahun Masehi ini sudah akan berlalu. Berbagai agenda tahunan pun harus segera diselesaikan sebelum matahari di bulan Januari terbit. Sudah menjadi rutinitas akhir tahun, tutup buku dilakukan pada seluruh kegiatan untuk memulai kembali pada buku selanjutnya. Waktunya untuk melakukan evaluasi dan refleksi atas semua yang telah kita kerjakan pada 12 bulan yang lalu.

Dalam sebuah lembaga termasuk sekolah kita mengenal adanya SKP ( Sasaran Kerja Pegawai ). Di awal tahun kita sudah menuliskan beberapa item yang menjadi target kerja kita selama setahun. Penyusunannya pun sudah berdasarkan berbagai pertimbangan baik dari segi kemampuan, kemungkinan, biaya, kuantitas, kualitas dan waktu.

Kini di penghujung tahun , waktunya kita untuk mengisi realisasi. Apakah semua target sudah terlaksana dengan baik? Sejauh mana telah kita lakukan? Berapa persen ketercapaian? Kita harus menuliskan realisasi dari apa yang sudah kita kerjakan. Tidak cukup dengan tulisan, namun bukti fisik sebagai hasil dari jerih payah pun harus kita lampirkan.

Apakah semua target harus terrealisasi? Idealnya memang demikian, item-item yang menjadi target harus terrealisasi, namun kita menyadari berbagai kelemahan diri, serta situasi dan kondisi. Nyatanya tidak semua target bisa direalisasikan. Ada yang bilang kalau tak bisa direalisasi ya tidak perlu ditargetkan. Menurut saya tidak demikian, justru target harus dituliskan, agar menjadi tantangan bagi kita untuk melaksanakannya. Kalau target hanya dituliskan yang enak dan mungkin saja, maka kita pun akan cenderung lebih santai dan biasa saja.

Demikian juga dalam sisi kehidupan kita yang lain. Alangkah baiknya kita juga melakukan penilaian terhadap apa yang telah sudah dikerjakan selama 12 bulan yang lalu. Sudahkah semua berjalan seperti target kita, atau justru jauh panggang dari api. Saatnya untuk bermuhasabah, refleksi diri. Syukur yang tak terkira apabila apa yang kita impikan ( target ) bisa menjadi kenyataan . Namun bila belum tercapai pun kita harus bisa mengoreksi , apa yang menjadi kendala sehingga tidak semua target terrealisasi. Inilah pentingnya menyusun realisasi dari target yang telah kita tuliskan. Bila tahun ini belum terwujud , maka kita bisa menuliskannya kembali di tahun-tahun yang akan datang. Hal-hal yang baik pun harus dipertahankan dan ditargetkan dengan lebih baik di tahun mendatang.

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, di mana hari esok lebih baik dari hari ini.

Kalahkan Rasa Takut


26 Dec @Kolom

Melihat air danau yang terhampar luas membuat dadaku terasa bergetar, jantung berdegup lebih kencang. Ketakutan demi ketakutan pun datang membayangi langkah kaki. Teman-teman mengajakku untuk naik speed boat dan keliling danau Bedugul yang luasnya kurang lebih 12 hektare. Duuh…sungguh kakiku gemetaran, namun penasaran lebih menguasai pikiran, akhirnya kuberanikan diri melangkah. Mereka saja berani, masa aku takut ( pikirku menyemangati diri ).

Boat bergoyang-goyang terkena angin.

“Ayo Kak, turun sini, tidak apa-apa, aman koq ,” seru Abang pengemudi boat

“ Beneran aman ya Bang, pakai pelampung kan?’ tanyaku

“ Iya aman , tak perlu pakai pelampung, “

Kami pun berempat turun dan naik ke boat yang sudah dipilih. Mesin mulai menderu dan boat pun melaju berkeliling di danau Bedugul siang itu. Hembusan angin sejuk menyapa kami , kabut tipis-tipis turun di pegunungan depan danau semakin menambah indahnya pemandangan. Keberanian pun mulai muncul, kubentangkan tangan merasakan segarnya angin dan udara di atas air. Sungguh betapa indah karya Sang Pencipta.

“ Aku beraniiii……,” teriakku bersaing dengan deru mesin.

Tiba-tiba mesin berhenti. Kami saling berpandangan.

“ Tak perlu panik Kak, ini sengaja saya matikan, sekarang silahkan berfoto-foto dulu di tengah danau .”

Alamak….gimana mau foto , di tengah danau seluas ini. Melihat kami yang ketakutan, Abang driver pun memberi pengarahan, agar kami rileks, sambil terus meyakinkan bahwa semua aman dan baik-baik saja. Akhirnya kami pun mulai mencoba memberanikan diri. Dan benar saja, tanpa terasa hampir setengah jam kami berswafoto, dengan berbagai gaya bak model saja ( heheheh….model kesiangan ).

Benar adanya, bahwa terkadang ketakutan kita sendirilah yang membelenggu sehingga hidup ini seolah menjadi statis dan monoton. Awal ketika pertama menulis pun kita harus merobohkan ketakutan yang membayangi. Takut jelek, takut tak dibaca, takut tak ada yang komentar, takut ditertawakan, takut ini, takut itu. Akhirnya tak satu pun yang kita tuliskan . Hasilnya nihil bukan ?. Namun begitu ketakutan itu kita runtuhkan, maka keberanian muncul, berani untuk menulis meski jauh dari kata sempurna ( modal berani nekad kayak saya…..). Kemauan, tekad dan keberanian mengalahkan rasa takut menjadi modal utama dalam setiap langkah.

Berani menghadapi masa depan, maka kita akan melangkah dengan keyakinan dan harapan. Namun bila berselimut ketakutan , kita hanya akan berdiri di tempat saja, hingga tertinggal dari yang lainnya. So ..kalahkan rasa takut, karena sesungguhnya hal yang paling utama dalam setiap langkah adalah mengalahkan rasa takut.

Takut gagal, hanya akan membuat kita tak melakukan apa-apa. Bayang-bayang kegagalan akan menghantui langkah . Kalahkan rasa takut, dan beranilah untuk mencoba. Lepaskan belenggu ketakutan dengan keberanian yang bijak .

Terima Kasih Cinta


25 Dec @Cerpen

Lihatlah, langit pun seakan turut berduka, menangis dengan derasnya, mengiringi kepergianmu. Aku hanya terpaku, menatap dirimu yang telah terbujur kaku. Mulutku terasa membisu. Tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun untukmu. Tiba-tiba dunia begitu gelap bagiku. Tak ada setitik cahaya pun tuk menjadi lenteraku. Bayangmu samar-samar mendekatiku, menatapku dengan lembut, tersenyum manis seperti malam itu. Kuusap mataku, Benarkah dirimu kembali padaku? Kuraih tanganmu, namun mengapa tak terjangkau juga. Terus kugapai dirimu, namun tak jua ku mampu merengkuhmu. Senyummu semakin menambat hatiku, hingga tak mampu kulangkahkan kaki mendekatimu sedikit saja. Perlahan kau lambaikan tanganmu dan berlalu menjauh dariku, tanpa ku mampu menjabat tanganmu. Ku panggil-panggil namamu, namun tak jua kau pedulikan aku. Engkau terus berlalu dan menghilang dariku.

“ Cintaaaaaa……….,”

“Minumlah Nak, agar hatimu sedikit lega, “

Tiba-tiba kudengar suara yang begitu teduh dan tak asing lagi bagiku, iya suara Ibuku. Kubuka mataku dan kulihat wanita paruh baya itu tlah duduk di depanku. Aku pun memeluknya erat-erat .

‘ Cinta, Ibu….”

“ Iya…Ibu tahu kau sangat mencintainya, namun tahukah engkau, Tuhan lebih mencintainya. Tuhan telah menyelamatkan Cinta, dan memanggilnya tanpa kesakitan. Cinta sudah tenang di sisi-Nya. Kita harus merelakannya Nak. Ayolah buka matamu, antarkan Cinta ke peristirahatan terakhirnya, dengan iringan doa dan keikhlasanmu, agar dia bisa kembali dengan tenang. Jangan bebani dengan tangismu, relakan Nak, percayalah rencana Tuhan jauh lebih baik,Ini memang berat, namun kita harus ikhlas,”

Ibu benar, seberat apa pun aku harus ikhlas melepas Cintaku. Kuusap air mata terakhir yang terjatuh. Kuhela nafas panjang . Aku harus berani menatap ke depan, Aku harus mampu berdiri tegak tuk mengantar Cinta ke persemayamannya. Aku harus mampu, meski hatiku terasa begitu hancur, tulang rusuk yang telah kutemukan kini benar-benar hilang dan tak lagi bersama. Untukmu Cinta , aku harus mampu.

Selamat jalan Cinta, kau adalah impian yang selama ini kurindu. Hidup bersamamu adalah babak terindah dalam hidupku, dan melepas kepergiamu adalah takdirku. Terima kasih sudah menemani hari-hariku dengan kasihmu. Kau telah penuhi relung hatiku dengan wajahmu. Kau telah habiskan sisa hidupmu bersamaku. Kau akan selalu terpatri dalam hatiku, karena hati ini tlah menjadi milikmu. Selamat jalan Cinta, aku akan penuhi janjiku padamu, melanjutkan hidup ini meski tanpamu. Aku kan terus berjuang melanjutkan impian kita , agar kau bangga padaku di atas sana. Terima kasih Cinta….

Duka Pantai Carita


25 Dec @Kolom

Tersentak mendapat kabar yang sangat mencengangkan. Berada jauh dari keluarga tiba-tiba berita Anyer mencuat memenuhi hampir seluruh grup di wa. Di tengah keceriaan hingar bingar berpesta dengan lagu yang menghibur dan menghentak jiwa , gelombang datang tanpa permisi menggulung dengan ganas megahnya panggung pertunjukkan. Jerit ketakutan di mana-mana. Semua di luar dugaan. Dunia bagaikan kiamat, semua beterbangan tersapu gelombang. Kapal, rumah dan bangunan berantakan, apalagi manusia. Semua terombang ambing terbawa arus yang deras. Menggapai pegangan dan berharap pertolongan.

Dalam hitungan detik semua berubah , berbalik 360 derajat . Cerita bahagia menjadi babak yang mengiris hati untuk dikenang. Ada yang berpisah dengan sahabat, dengan keluarga bahkan dengan belahan jiwa. Andai waktu diputar kembali, pasti tak ada satu pun yang mau untuk berada di tempat itu. Namun sayang , waktu tak akan pernah kembali. Tinggalllah kita yang diberi akal dan pikiran untuk bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian. Bersegera untuk belajar mengoreksi diri.

Apa sebenarnya yang tengah terjadi? Mengapa bencana seakan tak mau beranjak dari bumi pertiwi? Tsunami tanpa indikasi datang bertubi. Tak ada satu pun yang mampu memprediksi malam itu akan menjadi malam yang menakutkan dan mengerikan. Bagaimana tidak, tsunami biasanya didahului dengan gempa, tapi tak ada gempa yang mereka rasakan, hingga kejadian ini benar-benar di luar dugaan. Penyebabnya pun masih menjadi teka teki dunia. Ada berita yang menyebutkan terjadinya tsunami di Selat Sunda dikarenakan longsoran pada gunung Anak Krakatau sehingga menyebabkan gelombang air laut naik dan bergerak dengan cepat seperti kecepatan pesawat terbang. Gelombang yang bergerak cepat ini menyapu semua yang dilewatinya, kapal, rumah, mobil dan semua yang ada disapu dengan dahsyatnya, sehingga tidak hanya karena terkena air tetapi banyak korban yang meninggal karena tertimpa bangunan. Semoga ketabahan dan keikhlasan selalu membersamai saudara-saudara kita yang menjadi korban tsunami di Selat Sunda.

Kabarmu mengagetkanku

Beritamu sungguh pilu

Tawa dan canda ternyata hanya sementara

Dalam hitungan detik

Semua berubah

Menjadi kepanikan dan air mata

Longsoran Anak Krakatau

Membawa gelombang terbang

Dahsyat menerjang

Bergejolak di Selat Sunda

Menyapu seluruh alam

Hingga berantakan dan berhamburan

Menyisakan duka yang menyesakkan

Tangisan panjang yang tak berkesudahan

Trauma yang melekat dalam ingatan

Terpisah dari genggaman kawan

Terlepas dari pelukan Bunda

Terlempar dari dekapan Ayah

Tersisih dari belahan jiwa

Sungguh mengoyak perasaaan

Tak ada yang bisa kulakukan

Menyimak tragedimu dari kejauhan

Hanya doa kupanjatkan

Semoga ketabahan Tuhan berikan

Semoga kekuatan selalu dilimpahkan

Sesungguhnya kita tak mampu menawar

Karna semua terjadi atas izin-Nya

Maafkan Aku Sahabat...


19 Dec @Kolom

Penerimaan raport telah usai bagi sebagian sekolah. Liburan pun telah tiba, banyak agenda yang sudah tertata. Namun ada sedikit kecewa , karena beberapa acara harus “gatot” alias gagal total. Benar adanya terkadang ekspetasi tak seindah kenyataannya. Jadwal libur masih terbentur dengan realisasi SKP, penyelesaian administrasi guru, PKKS , dan lain-lain. Sulitnya berkompromi dengan waktu, seiring kegiatan yang terkadang begitu kaku, sehingga terpaksa beberapa planning berakhir sendu. Begitu juga dengan rencana reuniku dengan seorang sahabat yang sudah dua puluhan tahun tak bertemu. Terpisah begitu lama, bisa melacak jejak lewat dunia maya, akhirnya mendapatkan kontak dan bisa bercengkerama lewat media social, sungguh sangat bahagia.

LIburan Desember yang dinantikan tiba, rencana pertemuan diagendakan, tapi kenyataannya begitu kroscek jadwal, tak ada satu pun yang memungkinkan. Ketika saya bisa, beliaunya yang sedang sibuk, begitu juga sebaliknya. Duh ternyata meng “klik” kan waktu itu susah bener ya….( padahal kita bukan notabene orang-orang sibuk lho ). Entahlah…mungkin kita belum berjodoh untuk bertemu di liburan tahun ini . Masih ada sedikit harapan yang tersisa, di sela-sela waktu yang ada . Memang terkadang sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencana kita, tapi yakin rencana Allah pasti akan terjadi dan jauh lebih indah. Untuk itu kutuliskan isi hatiku teruntuk sahabat yang belum jua bisa bertemu, semoga lain waktu Allah mengizinkan itu.

@Maafkan Aku Sahabat

Pesanmu tlah kuterima

Ingin kita bersua

Meski hanya sekejap mata

Namun mengapa

Selalu saja ada kendala

Hingga sebulan lamanya

Tak jua kita bertatap muka

Maafkan aku kawan

Bukan aku tak ingin

Bukan aku menghindari

Akupun ingin

Bertemu dan berbagi dengamu

Namun waktu tak restui itu

Bertemu masih menjadi mimpi

Tak sempat jadi nyata di bulan ini

Doa tulus kutitipkan

Allah ridhoi persahabatan

Meski tak bisa bertatap muka

Semoga persaudaraan selamanya

Saling mendoakan

Meski kita berjauhan

Saling menjaga

Meski kita tak bersama

Saling mengasihi, saling menyayangi

Berbagi suka, berbagi duka

Saling mengisi

Memotivasi dan menginspirasi

Wujud persahabatan yang sejati

Selamat berjuang kawan

Di manapun kau berada

Tetap semangat

Menjadi insan yang bermanfaat

Pribadi yang lebih bermakna

Tulus ikhlas menemani

Berkah dan barokah menyertai

#maafkan aku #